Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Ijazah dan Kebencian

Ijazah dan Kebencian

Oleh: Ki Pandan Alas

Fenomena yang sedang terjadi sekarang ini di Indonesia adalah masalah ijazah dan kebencian. Dua hal itu mengemuka dengan begitu keras dan jelas. Mempengaruhi masyarakat dan menjadi viral di medsos. Saya hanya berusaha memahami dan mengerti, sama sekali tidak ingin terlibat atau memihak siapapun.

Pertama mengenai ijazah. Ternyata masyarakat kita begitu menganggap ijazah itu sesuatu yang penting, sebagai sarana untuk menaikkan eksistensi, gengsi dan akan menaikkan harga diri. Diakui atau tidak kita banyak memperhatikan pejabat yang tidak pernah terlihat waktu kuliahnya, tahu-tahu diwisuda sebagai Doktor. Malah ada yang harus dibatalkan gelar doktornya.

Kenyataan ini menjelaskan bahwa ternyata Indonesia lebih mengutamakan ijazah daripada kinerja. Kemampuan dan kompetensi bakal tidak diakui dan tidak dianggap relevan, jika tidak memiliki ijazah. Institusi manapun tidak akan mengakui. Sebaliknya, walaupun tidak pintar-amat dan tidak menunjukkan kompetensi yang memadai, dan tidak perform, asal memiliki ijazah, maka Anda akan diapresiasi.

Kedua adalah kebencian. Kebencian itu diutarakan ditampilkan dengan berbagai cara dan semakin nyata tidak pakai tedeng aling-aling. Orang tidak segan atau sungkan lagi, ketika mengutarakan kebenciannya secara terbuka. Di media sosial dan di media tulis. Orang justru dengan sengaja dan dengan sadar menyebarkan kebencian kepada orang institusi kelompok itu, melalui medsos.

Dibalik itu terselip harapan agar menjadi viral. Dan mendapat dukungan. Apalagi jika dengan sangat jelas, didukung oleh medsos para buzzer yang mengompori dan mengajak orang untuk bersama-sama membenci kepada orang yang dibencinya, dengan berbagai cara.

Semua itu nyata. Dan membuat orang yang tadinya tidak tahu apa-apa, tidak terlibat, tidak peduli, lalu jadi ikut-ikutan benci. Ini sebetulnya kondisi yang mengerikan bagi kehidupan yang di video banyak berada pada prosedur dan
aturan agama.

Padahal orang-orang itu pasti mengerti. Pendidikannya tinggi, cerdas pemahaman agamanya pasti juga tinggi, tetapi ternyata dengan sangat arogan dan bangga menunjukkan kebenciannya kepada orang. Dan berusaha mempengaruhi orang-orang, agar mengikuti untuk membenci orang yang dia benci.

Ternyata Saya Jadi ATC

Dua fenomena itu benar-benar sedang terjadi di Indonesia ini dan itu sebetulnya dampaknya mengerikan. Orang sibuk saling menjatuhkan dan merasa lebih benar. Dan itu menimbulkan kehebohan dan kekisruhan. Akibat dari akumulasi dari kedua hal tersebut, sungguh membuat repot.

Ijazah semakin nggak nggenah. Dan ijazah hanya tujuan antara, ada tujuan lain yang lebih berharga. Sebetulnya itu bukan mempersoalkan ijazah tapi sebetulnya itu adalah akumulasi kebencian yang luar biasa. Ijazah hanya sarana saja, yang digunakan untuk mendorong dan membenarkan eksistensi dari suatu kebencian. Sebab jika berbicara ijazah, itu akan merambah ke mana-mana. Jadi sebetulnya itu bukan masalah ijazah, tetapi masalah kebencian.

Sesuatu sudah berjalan dan yang melegalkan itu juga institusi yang resmi. Ketika dipersoalkan bisa membuat mentah semua. Suatu kejadian di masa lalu, tetapi dipakai dengan aturan dan parameter yang sekarang tentu saja hasilnya akan berbeda.

Belum lagi bahwa kita percaya bahwa kehidupan itu berjalan sesuai dengan kodrat illahi. Ada garis yang ditentukan-NYA, yang kita tidak tahu alasannya dan mengapa harus begitu. Sudah tentu garis-garis itu, tidak bisa menyenangkan
semua orang. Bisa saja itu membuat kecewa dan membuat orang emosi dan marah. Jika kita beriman ketentuan-NYA lah yang terbaik.

Masalah ijazah bisa selesai dengan data dan klarifikasi. Tetapi masalah kebencian sulit untuk hilang begitu saja. Itu akan terus menggerakkan orang yang membenci, terus mencari cara bagaimana menyampaikan kebenciannya. Jika
ijazah tidak berhasil, pasti akan mencari dengan cara yang lain. Rasanya itu tidak akan berhenti.

Akhirnya, sungguh fenomena yang memprihatinkan. Alih-alih berpikir untuk Indonesia agar maju, modern, sejahtera, dan lebih eksis di dunia internasional, kita malah lebih banyak sibuk ribut sendiri dan saling menghujat. Yang terlibat, dipenuhi emosi, kebencian dan saling menjatuhkan. Dan mencoba menyebarluaskan kebencian itu, mencari teman dan dukungan agar pelampiasan kebencian itu terwujud dan terlaksana.

 

(KPA:15 Okt 2026)

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Wayang: Warisan Budaya Tradisional Jawa

Kebakaran Hutan dan Lahan

Brasil Pulang

Share