Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Asal Usul Klaten

Asal Usul Klaten

Oleh: Ki Pandan Alas

Kabupaten Klaten adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota Kabupaten Klaten yaitu Kota Klaten berada di jalur utama yang menghubungkan Solo dengan Yogyakarta.

Wilayah Kabupaten Klaten sebelah utara adalah kawasan lereng dari Gunung Merapi, meliputi Kecamatan Kemalang, Karangnongko, Jatinom dan Tulung. Sementara sebelah selatan merupakan perbukitan dan pegunungan kapur,
meliputi Kecamatan Bayat, Cawas dan sebagian Gantiwarno.

Cikal bakal pendiri Klaten diyakini masyarakat tradisi lokal, berasal dari tokoh bernama Kiai Melati atau Kiai Mlati bersama istrinya Nyai Melati. Nama “Klaten” konon berasal dari pelafalan nama “Kiai Melati” yang dulu tinggal di daerah Sekalekan. Nama “Klaten” adalah derivasi dari kata “Melati” yang berubah menjadi “Mlaten” dengan tambahan “Ki+Mlaten,” maka jadilah Klaten.

Sedangkan versi lain ada yang mengisahkan bahwa Klaten, berasal dari kata KLATI. Artinya dibicarakan, ke laten = lati = mulut/bibir. Sebab wilayah itu dulu terkenal dengan sumber apa saja. Baik sumber air, sumber bahan pokok dan lain-lain, sehingga banyak dibicarakan dan terkenal atau “ke-laten“. Lama kelamaan lafaz dan pengucapannya berubah menjadi Klaten.

Kyai Melati adalah abdi dalem Keraton Mataram yang diutus membuka wilayah baru dan merintis pemukiman yang kini menjadi pusat Kabupaten Klaten.

Petilasan atau makam Kiai Melati terletak di jantung Kota Klaten, di dekat area alun-alun. Dan rutin dikunjungi sebagai bentuk ziarah leluhur oleh pemerintah daerah.

Siaran Radio Bodol

Kyai dan Nyai Mlati yang abdi dalem Keraton Mataram. Untuk memenuhi kebutuhan bunga melati untuk raja, Kyai dan Nyai Mlati bekerja dengan menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma. Raden Tumenggung Mangunkusuma yang saat itu menjabat sebagai Bupati Klaten. Kemudian dipindah-tugaskan ke istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta.

 

BENTENG ENGELENBURG
Wilayah Klaten, berakar dari pembangunan Benteng Engelenburg atau Loji Klaten yang dimulai pada tanggal 28 Juli 1804, pada masa Sunan Paku Buwono IV.

Benteng ini dibangun untuk mengawasi daerah perbatasan yang rawan konflik antara Keraton Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta pasca Perjanjian Giyanti. Pembangunan didanai dan dikerjakan bersama oleh pemerintah kolonial Belanda, Keraton Surakarta, dan Keraton Yogyakarta. Adapun nama Engelenburg berasal dari nama Nicolaus Engelhard, seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, untuk menghormati jasanya.

Tanggal 28 Juli 1804 ditetapkan sebagai hari bersejarah yang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Klaten.

Benteng Engelenburg dulu masih utuh. Pagarnya sangat tebal. Di tengahnya kosong. Hanya berupa lapangan tempat main anak-anak. Sering digunakan untuk lomba panahan, tukang jual jamu dengan atraksi-atraksi sulapnya, dan lain-lain.

Sekarang bangunan fisik benteng sudah tidak tersisa dan hilang tak berbekas. Di atas lokasi bekas berdirinya benteng itu sekarang berdiri Masjid Raya Klaten yang terletak di sebelah utara Alun-alun Klaten.

 

ZIARAH
Jum’at Legi sore hari, 4 Sept 2026 saya beruntung sempat ziarah ke Makam Kyai Mlati & Nyai Mlati. Terimakasih kepada mas Antok, yang mengantarkan saya ke sini. Padahal dia tidak pernah dan nggak mungkin kesini. Kok bisa? Lha wong dia Kristiani, jadi hanya karena saya minta, jadi ke sini deh.

Saya bilang: “Hebat mas Antok, yang muslim pun, belum tentu pernah ke sini, lho!”. Dia tertawa.

Makam Kyai Melati berada di atas tanah yang sedikit tinggi. “Di atas” perumahan penduduk. Ada gerbang dan tangga undakan yang cukup tinggi. Tangganya diberi cat warna merah di tengahnya, dan kuning di kanan kirinya.

Makamnya dikelilingi pagar. Dan ada taman kecil, yang tampaknya terpelihara baik. Makam Kyai dan Nyai Mlati terletak di bawah pohon besar. Ada 3 makam. Kyai Mlati dilengkapi nisan, Nyai Melati ditengah dan Ki Danareksa kakak Kyai Melati. Ketiga makam itu ditutupi kain putih.

Penjaga makam usianya sekitar 60-an tahun. Namanya Pak Kun Ari Bowo. Badannya gempal dan pede. Saya iseng bertanya, apa arti “Kun” pada namanya? Dan dia menjawab mantap: “Kun faya Kun.” Widih.

Tanpa diminta dia bercerita, dulu Prabowo, Ganjar dan Lutfi kesini, ketika nyapres. Jokowi dulu juga. Pasti beda tujuan. Saya berziarah, untuk mencoba tahu dan mengerti, bagaimana beliau Kyai Mlati dulu telah melakukan sesuatu.

Dan setelah lebih dari 2 abad, ternyata orang masih menziarahi dan mengingatnya. Pasti Kyai Melati adalah manusia pilihan. Dan bukan orang sembarangan.

Sayangnya belum begitu banyak meng-eksplore, sudah keburu menjelang Maghrib. Saya lalu membacakan Al-Fatihah untuk Kyai & Nyai Mlati. Dan segera pamit kepada pak Kun Ari Bowo.

 

(KPA: 14 September 2026)

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Wayang: Warisan Budaya Tradisional Jawa

Membaca Menambah Wacana

Asal Usul Klaten

Share