UMPAN
Saya tidak hobi mancing, tetapi suka menonton video orang memancing. Ketika akhirnya mencoba sendiri, mungkin karena kurang fanatik, ternyata kegiatan itu tidak terlalu menghibur.
Mancing di muara sungai, secara ekonomi, lebih banyak tekornya. Meski sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan soal itu.
“Yang dicari sensasi tarikannya, bukan ikannya,” kata teman saya.
Saya percaya saja.
Empat jam duduk di bibir sungai yang lebar, saya hanya mendapat seekor ikan kecil. Teman saya dapat dua. Jangan bicara soal ekonomi. Untuk ikan sekecil itu, ongkosnya lumayan: sebungkus rokok, umpan, kopi, dan camilan.
Tidak menyesal. Hanya makin paham bahwa tidak semua kegiatan harus menghasilkan sesuatu yang sepadan dengan biayanya.
Saya juga pernah diajak memancing di tengah laut. Daratan tak lagi terlihat. Air di sekeliling perahu tampak gelap, menyimpan kedalaman yang membuat saya sedikit ngeri. Membayangkan duduk di atas perahu kecil di atas ratusan meter air laut ternyata bukan perkara mudah.
Namun, rasa ngeri itu terbayar. Ikan-ikan begitu mudah didapat. Umpan baru dilempar, beberapa detik kemudian langsung disambar. Begitu terus, sampai perahu kecil kami dipenuhi hasil tangkapan.
Rupanya, ada tempat ketika menunggu terasa sia-sia, tetapi ada pula tempat ketika menunggu bahkan tidak sempat menjadi pengalaman.
Saya juga pernah mencoba memancing di kolam berbayar. Di sini, saya menemukan sesuatu yang sedikit berbeda. Ikan-ikannya seperti sudah terlatih menghadapi pemancing. Umpan dilempar berkali-kali, tetapi tak juga disambar.
Saya berpindah-pindah tempat, mencari posisi yang lebih teduh. Matahari tetap saja menemukan cara untuk menyengat kulit.
Sekian lama menunggu, akhirnya joran saya bergerak. Seekor ikan tersangkut di kail.
Selesai. Waktunya pulang.
Sisa umpan masih cukup banyak. Daripada dibawa pulang, saya menebarkannya ke kolam.
Mendadak permukaan air menjadi riuh. Ikan-ikan bermunculan, saling mendahului. Ada yang menyambar dengan cepat, ada yang datang belakangan. Ada yang tampak besar, ada yang kecil. Ada yang begitu agresif, ada pula yang seolah tak mau kehilangan kesempatan.
Saya memperhatikan keramaian kecil itu beberapa saat.
Di jalan pulang, sebuah pikiran melintas.
Jangan-jangan, kita ini juga seperti ikan-ikan itu.
Ada umpan yang kita sambut dengan antusias. Ada yang kita abaikan. Kadang-kadang kita berebut, seolah kalau tidak mendapatkannya sekarang, kesempatan tak akan pernah datang lagi.
Padahal, kita bahkan belum tentu tahu siapa yang menebarkan umpan itu. Juga belum tentu tahu apa yang sebenarnya sedang kita kejar.
Pikiran saya kemudian melayang ke berita-berita yang setiap hari berseliweran di media resmi maupun media sosial.
Ada berita yang membuat orang marah. Ada yang membuat orang tertawa, takut, kagum, atau saling mencurigai. Sebagian segera dibagikan, sebagian diperdebatkan berhari-hari. Tak jarang, orang yang semula hanya membaca akhirnya ikut bertengkar dengan orang yang bahkan tak dikenalnya.
Tentu saja, tidak semua berita adalah umpan. Namun, di tengah riuhnya informasi, saya kadang bertanya-tanya: jangan-jangan, ada yang memang sedang menebarkan sesuatu untuk melihat siapa yang menyambar.
Bukan semata-mata untuk mengetahui siapa yang setuju atau menolak, melainkan juga siapa yang mudah terpancing, siapa yang paling bersemangat, dan siapa yang akan ikut berebut tanpa sempat bertanya.
Barangkali, reaksi kita pun bisa menjadi semacam peta bagi mereka yang tahu cara membacanya.
Entahlah.
Saya bukan ahli media, apalagi ahli membaca pikiran orang. Saya hanya teringat ikan-ikan di kolam tadi. Betapa mudahnya mereka berkumpul ketika umpan ditebarkan. Masing-masing sibuk mendapatkan bagiannya, tanpa pernah menoleh ke tepi kolam.
Sementara itu, seseorang berdiri di sana, memperhatikan.
Siapa tahu, sesekali kita memang perlu berhenti menyambar. Bukan karena semua umpan pasti berbahaya, melainkan karena tidak semua yang tampak menarik benar-benar perlu kita kejar.
Tetapi, ya, itu hanya pikiran seorang pemancing dadakan.
Sebelum pulang, saya dan teman mampir ke sebuah warung. Kami meminta tiga ekor ikan hasil tangkapan tadi digoreng. Tak banyak, tetapi cukup untuk menemani makan siang.
Hari itu, dengan topi, joran, dan penampilan ala pemancing, mungkin orang mengira saya seorang pemancing mania.
Padahal, saya cuma diajak.
Dan sampai sekarang, saya masih lebih suka menonton video orang memancing.

