Catatan HLG
Home / Catatan HLG / MBG dan Keracunan

MBG dan Keracunan

MBG (Makan Bergizi Gratis) masih belum bebas dari potensi membuat keracunan. Persoalan siswa mengalami keracunan makanan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meminta maaf atau menghentikan sementara distribusi.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini dijabat oleh Dr. Sudaryono yang dilantik pada bulan Juli 2026.

Sejak dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto, posisi Kepala BGN telah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan. Dadan Hindayana (2024 – Juni 2026) – Kepala BGN pertama yang menjabat sejak lembaga ini dibentuk hingga akhirnya digantikan. Nanik Sudaryati Deyang (Juni 2026–Juli 2026) – Menjabat selama sekitar 45 hari sebelum mengundurkan diri dan menggantikan kepala sebelumnya.

Kemudian, Dr. Sudaryono (Juli 2026 – sekarang), menggantikan Nanik S. Deyang. Pergantian pimpinan tampaknya masih belum sepenuhnya memperbaiki proses pelaksanaan MBG. Beberapa kasus keracunan masih saja terjadi.

 

CORRECTIVE ACTION

Yang lebih penting adalah corrective action yang kuat, terukur, dan mencegah agar kejadian tidak berulang. MBG adalah program besar untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas generasi muda. Karena itu, setiap kejadian keracunan makanan harus menjadi alarm serius.

Keracunan bukan sekadar persoalan satu menu atau satu dapur. Ia menunjukkan bahwa ada mata rantai pengamanan pangan yang mungkin gagal. Mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, proses memasak, kebersihan peralatan, pengemasan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi siswa.

Siaran Radio Bodol

Corrective action tidak boleh berhenti pada “evaluasi”. Harus ada tindakan nyata. Mencari akar masalahnya, menghentikan sumber risikonya, memperbaiki proses, memeriksa kembali seluruh rantai makanan. Kemudian memastikan standar keamanan benar-benar dipenuhi, sebelum layanan berjalan kembali.

Lebih penting lagi, setiap kejadian harus menjadi lesson learned yang diterapkan ke seluruh penyelenggara MBG. Bukan hanya di lokasi yang mengalami masalah.

Anak-anak bukan tempat untuk menguji coba lemahnya sistem. Program yang baik bukan hanya makanan yang bergizi, tetapi juga aman, higienis, terkontrol, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa saran untuk proses corrective action:

  1. Investigasi akar masalah (RCA=Root Cause Analysis).

Jangan berhenti pada dugaan. Telusuri bahan baku, pemasok, dapur, air, alat, suhu penyimpanan, waktu masak, distribusi, hingga waktu makanan dikonsumsi.

  1. Traceability wajib.

Setiap makanan harus dapat ditelusuri: siapa pemasoknya, kapan dimasak, siapa yang mengolah, kapan dikirim, dan sekolah mana yang menerima.

  1. Memperkuat Food Safety Control.

Menerapkan prinsip HACCP = Hazard Analysis and Critical Control Point, terutama pada suhu, waktu, kebersihan, penyimpanan dan distribusi.

  1. Sampling dan Testing.

Simpan sampel makanan setiap batch untuk pemeriksaan apabila terjadi kejadian luar biasa. Lakukan pengujian mikrobiologi secara berkala dan berbasis risiko.

  1. Audit Dapur dan Pemasok.

Jangan hanya mengandalkan checklist administratif. Lakukan inspeksi lapangan dan audit mendadak terhadap dapur, gudang, kendaraan distribusi, serta pemasok.

  1. Stop–Fix–Verify–Restart.

Jika ada indikasi bahaya, maka seyogyanya melakukan hal ini.

Hentikan → Cari penyebab → Perbaiki → Verifikasi → Baru beroperasi Kembali

Satu kejadian harus menghasilkan perbaikan sistem. Corrective action harus mempunyai PIC, deadline, indikator keberhasilan dan bukti verifikasi. Jangan hanya menghasilkan berita acara dan rapat evaluasi.

Pada intinya MBG jangan hanya mengejar “bergizi dan gratis”, tetapi harus memenuhi tiga kata kunci: GIZI — AMAN — TERKENDALI. Karena satu piring makanan yang tidak aman dapat menghilangkan kepercayaan terhadap seluruh program.

Akhirnya, sebenarnya hal yang seperti ini pasti sudah menjadi concern para penentu kebijakan. Hanya saja jika terlalu lama, dan masih saja terjadi keracunan yang berulang, maka masyarakat menjadi bertanya-tanya. Sampai dimana corrective action sudah dilakukan?

Sebab dampaknya sangat dirasakan dan menakutkan bagi lapisan bawah yang terkena langsung. Dan akibatnya menjadi dorongan untuk menolak bahkan apriori pada program MBG ini.

 

HLG: 14 Sept 2026

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Wayang: Warisan Budaya Tradisional Jawa

Membaca Menambah Wacana

Asal Usul Klaten

Share