Penerbangan
Home / Penerbangan / Ternyata Saya Jadi ATC

Ternyata Saya Jadi ATC

Catatan Pinggir Seorang Mantan ATC

 

Dulu, saya bercita-cita menjadi sutradara film. Bayangan saya tentang Air Traffic Controller (ATC) tidak terlalu rumit: orang yang mengatur pesawat mendarat dan parkir di landasan dengan alat mirip bet ping pong.

Maklum, waktu itu saya lebih akrab dengan komik silat dan film laga daripada dunia penerbangan. Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, sampai film-film Wang Yu menjadi santapan mata. Saya ingin menjadi sutradara, bukan aktor. Pokoknya, kelak saya harus berada di balik layar.

Bahwa kemudian saya justru menghabiskan sebagian besar hidup di balik layar radar dan jendela tower, itu cerita lain.

Jadi, kalau suatu hari Anda terbang dan mendengar suara tenang dari petugas ATC, jangan buru-buru membayangkan sosok yang sejak kecil memang bercita-cita mengatur lalu lintas udara. Boleh jadi, di antara mereka ada yang dahulu ingin menjadi sutradara, insinyur, tentara, atau malah belum tahu ingin menjadi apa.

Saya salah satunya.

Sebagai anak desa, pesawat terbang bukanlah sesuatu yang akrab dalam kehidupan saya. Naik pesawat hanya angan-angan. Bandara terasa seperti stasiunnya orang kaya. Saya lebih mengenal kendaraan yang lewat di jalan desa daripada burung-burung besi yang hilir mudik di langit.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Sayangnya, hidup tidak selalu mengikuti skenario yang kita tulis sendiri.

Cita-cita menjadi sutradara kandas karena saya tidak tahu bagaimana menempuh jalannya. Menjadi insinyur gagal. Menjadi tentara pun tidak kesampaian.

Tiga kegagalan berturut-turut. Kalau ini film, mungkin penonton sudah mulai bertanya, sebenarnya tokoh utamanya mau jadi apa?

Jawabannya pun waktu itu saya tidak tahu.

Sampai suatu hari, selembar koran bekas membawa saya ke STPI Curug, yang saat itu memiliki sejarah nama kelembagaan sebagai API, LPPU, dan PLP. Saya mendaftar bukan karena sejak lama memendam cita-cita menjadi ATC. Alasannya sangat praktis: pokoknya jangan menganggur. Kalau bisa, sekalian tidak membebani orang tua dengan biaya pendidikan.

Ada satu masalah kecil: saya tidak punya uang untuk menyewa penginapan selama mengikuti tes. Jadilah masjid sebagai tempat bermalam.

Saya tidur di sana sambil menunggu hasil seleksi. Entah berapa banyak doa yang saya panjatkan. Yang jelas, saya akhirnya diterima—menjadi satu dari enam puluh peserta yang lolos dari ribuan pendaftar.

Rupanya, saya tidak perlu menjadi sutradara untuk mendapatkan cerita yang menarik. Kehidupan sudah mulai menyusun ceritanya sendiri.

Banjarmasin menjadi tempat pertama saya menjalani on-the-job training. Di sanalah saya mulai mengenal dunia ATC yang sesungguhnya. Tidak ada bet ping pong untuk memarkir pesawat. Yang ada adalah prosedur, komunikasi, konsentrasi, dan tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.

Setelah itu, Balikpapan menjadi tempat saya benar-benar menapaki kehidupan profesional. Saat itu, suasana kerja terasa sangat sibuk. Banyak hal masih dikerjakan secara manual. Dunia penerbangan belum secanggih sekarang, dan pengalaman di lapangan mengajarkan hal-hal yang tidak selalu bisa diperoleh dari bangku pendidikan.

Saya masih ingat perasaan bangga ketika melihat pesawat-pesawat berjajar di apron. Mereka yang baru saja saya pandu mendarat kini berada dengan selamat di tempatnya.

Ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan. Barangkali, untuk pertama kalinya saya mulai menyadari bahwa pekerjaan yang semula bukan pilihan hati ini ternyata bukan pekerjaan sembarangan.

Di Balikpapan pula kehidupan saya perlahan membaik. Mobilitas pekerja part-timer, terutama yang berkaitan dengan industri minyak dan perusahaan helikopter, ikut membuat aktivitas penerbangan terasa dinamis. Penghasilan yang saya terima memungkinkan saya mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya sangat berarti: mengirim uang bulanan untuk Ibu di kampung.

Bagi orang lain, mungkin itu hal biasa. Bagi saya, mengirim uang untuk Ibu merupakan salah satu kebahagiaan pertama yang saya peroleh dari pekerjaan ini.

Dulu saya tidur di masjid karena tidak punya uang untuk penginapan. Kini saya bisa membantu Ibu dari hasil keringat sendiri.

Tidak ada yang dramatis. Tetapi bagi seorang anak desa, rasanya cukup untuk membuat dada hangat.

 

Karier saya kemudian berjalan ke arah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya mengikuti berbagai pendidikan tambahan, menyelesaikan kuliah ilmu ekonomi, lalu mendapat kesempatan menempati sejumlah posisi manajerial.

Dari memimpin unit kecil, menjadi General Manager, hingga akhirnya menduduki posisi Deputi Direktur. Pekerjaan membawa saya bepergian ke berbagai negara, menghadiri rapat lintas negara, dan berjumpa dengan orang-orang yang dahulu hanya bisa saya lihat di televisi.

Pernah pula saya duduk satu meja dengan seorang menteri, berbincang sambil mengepulkan asap rokok.

Kalau saja anak desa yang dahulu tidur di masjid itu bisa melihat adegan tersebut, mungkin ia akan bertanya: ini sebenarnya film tentang apa, ya?

Bedanya, kali ini saya tidak perlu menjadi sutradara. Saya cukup menjalani peran yang diberikan kehidupan.

Ketika menoleh ke belakang, saya sering tersenyum sendiri. Ada begitu banyak cita-cita yang tidak kesampaian, tetapi hidup toh tetap berjalan. Bahkan, kadang-kadang membawa kita ke tempat yang tak pernah masuk dalam daftar keinginan.

Saya tidak menjadi sutradara. Tidak menjadi insinyur. Tidak pula menjadi tentara.

Saya menjadi ATC.

Dan saya bahagia menjalaninya.

Mungkin memang tidak semua keinginan harus terpenuhi agar seseorang bisa merasa hidupnya berarti. Ada kalanya kita terlalu sibuk mengejar pintu yang kita inginkan, sampai tidak menyadari bahwa pintu lain ternyata juga terbuka.

Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa kegagalan selalu berakhir indah. Hidup tidak sesederhana itu. Ada orang yang harus berjuang jauh lebih keras, dan ada pula yang belum menemukan jalan keluarnya.

Saya hanya sedang mengenang perjalanan sendiri. Jalan yang dahulu terasa seperti pilihan cadangan ternyata memberi saya pekerjaan, pengalaman, persahabatan, dan kesempatan untuk membantu orang tua.

Kalau sekarang ditanya apakah saya menyesal tidak menjadi sutradara, jawabannya mungkin sederhana: sesekali masih terbayang juga, terutama ketika menonton film yang bagus.

Tetapi saya tidak pernah benar-benar merasa salah jalan.

Menjadi ATC bukan pekerjaan yang selalu terlihat oleh penumpang. Orang mungkin lebih mudah mengenali pilot yang berdiri gagah dengan seragamnya. Sementara itu, suara ATC hanya terdengar sesaat di kokpit, bekerja di balik layar, lalu kembali menjadi bagian dari kesibukan bandara.

Namun, justru di situlah letak kebanggaan profesi ini. Ada tanggung jawab besar yang dijalankan bersama banyak orang, dengan disiplin, kompetensi, dan kerja sama yang tidak bisa ditawar.

Bagi saya, kebanggaan itu tidak harus diukur dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diduduki atau seberapa jauh kita bepergian. Kadang-kadang, kebanggaan cukup hadir ketika kita menyadari bahwa pekerjaan yang kita lakukan sungguh berarti bagi orang lain.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang itu, saya bisa mengatakan bahwa saya bersyukur pernah menjadi bagian dari dunia penerbangan. Saya datang ke profesi ini tanpa cita-cita yang muluk. Saya bertahan, belajar, dan perlahan menemukan tempat saya sendiri.

Barangkali, kehidupan memang tidak selalu mengantar kita ke tujuan yang kita minta. Tetapi selama kita bersedia menjalani perjalanan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kita menemukan kebahagiaan di tempat yang semula bahkan tidak kita kenal.

Selamat Hari ATC Internasional untuk kawan-kawan yang masih bertugas di tower, ruang radar, dan di berbagai unit pelayanan navigasi penerbangan.

Semoga selalu sehat, tetap profesional, dan terus menemukan kebanggaan dalam pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat berarti.

Dan untuk teman-teman yang dahulu punya cita-cita lain sebelum akhirnya menjadi ATC, tenang saja. Kalian tidak sendirian.

Rupanya, tidak semua orang sampai ke profesi ini melalui jalur yang direncanakan.

Ada juga yang nyasar, lalu betah.

Selamat Hari ATC Internasional!

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Wayang: Warisan Budaya Tradisional Jawa

Kebakaran Hutan dan Lahan

Brasil Pulang

Share