Oleh : Ki Pandan Alas
Jaksa penuntut umum menuntut Nadiem dengan hukuman 18 tahun penjara. Dan dituntut membayar denda Rp 1 miliar, juga kewajiban membayar uang pengganti kerugian negara Rp 5,6 triliun.
Jika uang pengganti triliunan tersebut tak sanggup dibayar, Nadiem diancam pidana subsider berupa tambahan 9 tahun penjara. Total, bayang-bayang 27 tahun bui berada di depan mata Nadiem.
Nadiem, menganggap itu bukan sekadar hukuman penjara, melainkan bentuk pembunuhan karakter.
Di hadapan majelis hakim, ia mengutarakan rasa frustrasinya atas konstruksi hukum yang dibangun jaksa. Nadiem membandingkan tuntutan yang menjeratnya, dengan vonis para pelaku pembunuhan berencana sampai gembong narkoba.
——————————–
Ini sungguh menggelitik. Saya tidak ingin membahas dari sisi hukum, manajemen atau policy.
Saya hanya tertarik memperhatikan, bagaimana seorang anak muda, yang cerdas punya keberanian, dan mampu menghasilkan sesuatu yang fenomenal. Gojek!
Dan itu membawanya masuk ke dalam suatu institusi bergengsi. Menjadi Menteri pada usia yang masih sangat muda!
Itu prestasi yang sungguh luar biasa. Langka. Tidak semua orang bisa sampai seperti itu.
MUSIBAH
Ketika menjadi Menteri, pun dia menghasilkan beberapa hal yang fenomenal. Salah satunya, banyak mahasiswa yang menikmati kuliah gratis ke manca negara. Universitas Merdeka.
Setelah masanya habis, setelah eksistensi yang gemerlap, ia kemudian jatuh. Menjadi pesakitan, disayangkan, disalahkan, dihindari dan dibenci.
Tiba-tiba dari tempat yang tinggi, dia jatuh ke paling dasar. Pada level yang terendah.
Ini sesuatu hal yang mesti direnungkan dan diambil hikmahnya.
Saya menjadi semakin yakin, bahwa segala sesuatu ada jalannya, ada caranya dan ada rute yang harus dijalani.
Jika ditarik ke arah spiritual, lalu apanya yang salah? Pasti ada sebabnya.
Penyebab yang kasat mata, cukup jelas. Yang membuat dia dituntut 18 tahun.
Tetapi dari yang sisi yang tidak kasat mata. Inilah yang sebenarnya menjadi misteri.
Pada setiap keberhasilan dan kekuasaan, bagi orang Jawa, itu ada “pulungnya.”
Ada cahaya Ilahiah yang mendukung dan menjadikan dia, menjadi eksis ketika berkuasa.
Selain itu, tentang kekuasaan, orang Jawa juga punya akronim: “ora kuwat drajat” Apakah itu berlaku bagi dirinya?
Saya tidak mau menjustifikasi hanya ingin memotret saja.
Seseorang yang luar biasa naik dan jatuh dengan luar biasa, mesti ada sesuatu yang bisa dipelajari dari hal semacam ini.
Dan seyogyanya kita berusaha merenungkan dan mengambil hikmahnya.
Begitulah kira-kira …
KPA : 15 Mei 2026

