Spiritual
Home / Spiritual / Hakikat Qurban

Hakikat Qurban

Oleh : Ki Pandan Alas

 

“Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS:37:102)

Ayat ini bukan sekadar kisah ketaatan antara seorang ayah dan anak. Ia adalah cermin perjalanan rohani manusia menuju Allah.

Jika dilihat dari sisi hakikat (makna terdalam), ada beberapa lapisan makna yang layak direnungkan:

1. Mimpi, Bahasa Ilahi

Dalam tingkat hakikat, mimpi Nabi Ibrahim bukan sekadar bunga tidur, melainkan wahyu dalam bentuk simbolik. “Menyembelih” di sini tidak hanya dimaknai fisik, tetapi sebagai perintah untuk “mematikan” sesuatu yang paling dicintai selain Allah.

Artinya, setiap manusia pada titik tertentu akan diuji, apa yang paling ia cintai? Apakah ia siap melepaskannya, demi Allah?

Menulis Untuk Menginspirasi

2. Ismail Simbol “Yang Dicintai”

Tokoh Ismail dalam perspektif hakikat, melambangkan keterikatan kepada dunia, harapan, ego, dan “identitas diri”.

Maka “penyembelihan Ismail” berarti, menyembelih keterikatan terdalam dalam hati. Jadi, bukan anaknya (Ismail) yang menjadi inti, tapi rasa memiliki anak itu sendiri.

3. Kesadaran Spiritual Tinggi

Perhatikanlah bahwa Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan penyembelihan, tetapi lebih dahulu berdialog. Ini menunjukkan, bahwa dalam hakikat perjalanan menuju Allah bukan paksaan, tetapi kesadaran yang matang dan selaras.

Jawaban Ismail: “Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Ini bukan sekadar patuh, tetapi ridha. Penyerahan total dalam kesatuan kehendak, dengan kehendak Ilahi. Di sini, bahkan ego seorang anak pun “tersucikan”.

4. Penyembelihan Tidak Terjadi

Secara lahiriah, Ismail tidak jadi disembelih. Dalam hakikat, ini mengandung pesan besar, bahwa Allah tidak menginginkan darahnya, tetapi keikhlasan hati.

Sebenarnya yang “mati” adalah: ego Ibrahim sebagai ayah dan matinya rasa memiliki selain kepada Allah.

5. Hakikat Qurban

Penyembelihan adalah syariat dari ibadah qurban. Namun hakikat qurban bukan pada hewan yang disembelih, tetapi nafsu yang ditundukkan.

Makna batinnya :
– Sapi/kambing simbol nafsu.
– Pisau lambang tekad.
– Penyembelihan adalah pengorbanan ego.

6. Pesan Hakikat Diri

Ayat di atas, seakan bertanya kepada kita: Apa ‘Ismail’-mu?”. Pada saat sekarang ini, Ismail itu, bisa berwujud : ambisi, harta, jabatan, hubungan, dan citra diri sendiri.

Dan pertanyaan hakikatnya adalah: “Apakah kita siap untuk “menyembelihnya” jika itu menghalangi kita dari Allah?

 

EPILOG

Pada akhirnya, kisah Qurban ini bukanlah tentang kehilangan, tapi tentang pemurnian cinta kepada Allah.

Ketika semua selain Allah dilepaskan, justru Allah menggantinya dengan yang lebih tinggi.

Seperti Ismail yang diganti dengan sembelihan lain.

Karena dalam hakikat, yang diminta bukan apa yang kita miliki, tetapi siapa yang kita dahulukan dalam hati.

 

KPA:260526

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Idul Fitri di Tengah Rudal

Share