Segala sesuatu terjadi di dunia ini tidak pernah lepas dari hukum sebab-akibat. Yang terjadi baik atau pun buruk, mestilah ada faktor-faktor yang mendahuluinya. Yang sekarang kita alami dan peroleh barangkali juga lantaran dulu ayah-ibu telah melakukan sesuatu, yang balasannya kita terima hari ini. Juga selanjutnya apa yang sudah kita kerjakan, akan berlanjut berakibat kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Begitu seterusnya dari generasi ke generasi.
Memang kita cenderung hanya melihat atau mengevaluasi sebab-akibat yang kasat mata saja. Hal-hal yang tidak kasat mata, sering luput dari perhatian dan analisis. Barangkali yang tidak kasat mata, memang di luar jangkauan alam pikir. Sebab-akibat yang kasat mata misalnya adalah jika dulu orangtua kita bersusah payah membiayai anak-anaknya kuliah, dengan mengorbankan apa saja yang dipunyai. Juga para orangtua kita dulu juga meletakkan dasar-dasar pendidikan ahlak yang baik. Akibatnya sekarang anak-anaknya menjadi orang yang sukses dan memiliki karakter kuat.
Itu adalah yang kasat mata.Yang tidak kasat mata hampir selalu lepas dari pengamatan. Sikap dan perilaku orang sebagai manusia biasa, seringkali tidak akurat dan menyimpang dari ketentuan Allah. Yang ini juga akan berakibat kepada anak-anaknya. Apa itu? Nah ini seringkali tidak dapat dijelaskan dengan baik. Orang cenderung tidak mau mengakui yang buruk dan jelek. Maunya yang tampak baik dan menyenangkan hati. Wajar saja. Yang buruk ditanam dalam-dalam. Hanya saja, betapa pun ditanam dalam, secara alamiah itu akan muncul dan berakibat kepada anak-anaknya. Bentuknya apa? Sayangnya tidak dapat digambarkan secara umum, karena sifatnya sangat personal.
Hal-hal tersebut diatas adalah bukti dari firman Allah SWT QS (7-8) :
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.
Jadi jika seandainya ada musibah menimpa, -sesuai makna ayat diatas- seyogyanya marilah berfikir dengan jernih dan evaluatif, mengapa hal itu dapat terjadi? Marilah kita teliti apa yang salah dari diri kita? Atau jika tidak ada yang salah, jangan-jangan kita justru hanya menerima akibat dari sebab yang tidak kita tahu? Wallahu’alam.
Pada sisi yang lain hukum sebab-akibat juga berpengaruh kepada sekeliling kita. Kekuatan sebab-akibat itu sangat mempengaruhi kita dan dapat berujud sebagai :
-
Prasangka : prasangka menjadi kenyataan. Jika kita husnudzon orang itu baik, maka benar orang itu baik. Jika kita suudzonorang itu jelek, maka benar orang itu jelek.
-
Harapan : jika kita berharap penuh, maka harapan itu akan terwujud.
-
Ketertarikan : manusia adalah ibarat magnet. Situasi, kondisi dan keadaan sekeliling akan mengikutiyang kita pikiran. Atau kita yang mengikuti magnet yang lebih kuat.
-
Mirroring : dunia luar adalah cermin dari dunia dalamdiri kita. You are what you think.
Mohon maaf jika salah.

