Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Pesawat dan Kereta

Pesawat dan Kereta

Oleh : Ki Pandan Alas

 

Kecelakaan kereta api di Bekasi Timur di mana KRL jurusan Cikarang ditubruk dari belakang oleh kereta Argo Bromo Anggrek korban pada saat tulisan ini ditulis adalah sebanyak 18 orang.

Semuanya perempuan karena kebetulan berada di gerbong perempuan di urutan paling akhir KRL jurusan Cikarang itu.

Saya mantan ATC (Air Traffic Controller) Dan saya tergelitik untuk mencoba mengerti bagaimana mengendalikan lalu lintas kereta api ini.

 

PESAWAT

Sebagai wacana kita melihat di udara. Pesawat mendarat itu sepenuhnya diperintah oleh seorang ATC dari Tower atau Menara Pengawas Lalu Lintas Udara.

Menulis Untuk Menginspirasi

ATC itu memberikan clearance kepada pesawat untuk mendarat : “Cleared to Land” Itu adalah ijin untuk mendarat. ATC memberi jaminan tidak ada halangan di landasan. Dan pesawat itu aman dan dapat mendarat dengan normal.

Walaupun begitu, bisa juga terjadi pada suatu ketika, ternyata ketika pesawat akan mendekati landasan tiba-tiba ada halangan yang ada di landasan.

Ketika itu terjadi maka ATC bisa memerintahkan kepada pilot untuk melakukan pembatalan pendaratan.

Istilahnya adalah “Overhoot” atau “Go round.” Pesawat lalu membatalkan pendaratannya dan mengulangi pendaratan berikutnya.

Itu dari sisi udara. Jadi ijin pesawat mendarat, mutlak ada di tangan ATC. Pilot hanya mengikuti perintah ATC.

 

KERETA API

Di kereta api, yang mengendalikan perjalanan kereta api adalah PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api).

Kalau tidak salah sistemnya berupa blok per blok. Disepanjang rel kereta, dibagi menjadi puluhan mungkin ratusan blok.

Kereta boleh masuk jika blok di depannya sudah dinyatakan “clear” atau bebas hambatan.

Jadi jika blok dinyatakan sudah clear dulu, baru kereta api boleh lewat.

Selain dari itu, di sepanjang perjalanan itu para masinis harus hafal tanda-tanda yang disebut sebagai “Semboyan”. Kalau tidak salah ada 56 semboyan seluruhnya.

Itu yang memberikan petunjuk bagi masinis. Apakah dia harus berhenti ataukah terus atau harus memperlambat keretanya.

Masinis melihat sinyal semboyan di kiri atau kanan rel kereta. Biasanya lambangnya seperti plang yang bisa dinaikkan, diluruskan atau diturunkan. Dan lampu berwarna Hijau, Kuning dan Merah.

 

PROBABILITY

Pada kasus Argo Bromo Anggrek, masinis kereta itu terus memasuki jalur itu, karena dia (mungkin) melihat semboyan 5.

Semboyan 5 pada kereta api di Indonesia adalah isyarat visual yang menunjukkan bahwa jalur aman dan kereta diperbolehkan melanjutkan perjalanan.

Sedangkan Semboyan 7 artinya : “Jalur kereta api yang akan dilewati berstatus tidak aman, kereta api yang akan melewatinya diharuskan untuk berhenti.”

Yang menjadi pertanyaan ketika ada kereta KRL itu berhenti pada jalur yang sama :

  • Apakah masinis Argo Bromo Anggrek itu sudah melihat semboyan 7, dan dia harus berhenti sama sekali?
  • Atau Semboyan 7 itu tidak tampil, oleh sesuatu sebab.
  • Semboyan 7 gagal tampil, disebabkan kelalaian petugas atau karena masalah teknis.

Dengan melihat tubrukan yang begitu keras. Sampai lokomotif ArgoBromo itu melesak masuk gerbong terakhir KRL, dapat diperkirakan masinis Argo Bromo tidak tahu bahwa jalur itu ada yang menghambat.

Konon masinis Argo Bromo, sudah melakukan 4-5 kali pengereman, tapi gagal berhenti.
(Sekedar info, pada kecepatan 100 km/jam, rangkaian keteta butuh 1 km, sebelum berhenti.)

Artinya semboyan 7 belum sempat dilihat oleh masinis. Ada kemungkinan karena sesuatu hal, Semboyan 7 itu belum/tidak diturunkan.

Jadi apakah masinis Argo Bromo tidak melihat Semboyan 7 itu? Atau memang Semboyan 5 yang artinya boleh jalan itu belum sempat diganti dengan Semboyan 7?

Inilah kira-kira yang menjadi sebab terjadinya kecelakaan. Dan barangkali sebagai bahan evaluasi dari tim pencari fakta kecelakaan ini.

Akhirnya, ini hanya sekedar mencoba mengira-kira. Sekedar wacana dari seorang ATC, yang pasti beda cara mengendalikan suatu perjalanan wahana transportasi.

Yang jelas, semoga selanjutnya tidak akan terjadi lagi kecelakaan kereta yang mengerikan ini.

Akhirnya, ada satu lagi. Faktor taksi yang mogok di tengah rel, juga menjadi salah dari sebab yang mesti dibahas dengan institusi di luar PT. KAI.

(KPA : 30 April 2026)

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Idul Fitri di Tengah Rudal

Share