Setelah kejadian tabrakan itu, Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandi, mengaku syok. Dia menduga adanya gangguan atau malfungsi pada sistem persinyalan, sebelum terjadinya kecelakaan.
Ia menyatakan sinyal mendadak berubah menjadi merah padahal sebelumnya hijau. Ini membuat ia belum sempat merespons informasi dari pusat kendali secara penuh, pada saat melaju kereta kencang sekitar 110 km/jam.
Sinyal tiba-tiba berubah merah. Masinis merasa heran. Indikator sinyal tidak seharusnya berubah mendadak. Menurut urutan normal, jika dari arah Bekasi sinyal berwarna hijau, maka di blok berikutnya maksimal berwarna kuning dan tidak bisa langsung berubah menjadi merah.
Nofiandi menyebutkan bahwa sebelum kejadian, ada informasi dari Pusat Kendali (OCC) terkait insiden di depannya. Tetapi keterangan dari OCC belum utuh.
Informasi tersebut belum diterima dan dipahami sepenuhnya oleh masinis, tetapi keburu sinyal sudah berubah menjadi merah.
Meski syok dengan kejadian tersebut, ia bersyukur penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang dibawanya relatif aman. Ia menyadari dampak terberat justru dialami oleh penumpang KRL yang berada di gerbong paling belakang.
Keterangan dari masinis ini menjadi salah satu fokus pihak berwenang dalam menyelidiki dan melakukan investigasi penyebab pasti terjadinya tabrakan, apakah disebabkan oleh human error atau kegagalan sistem.
KPA : 1 Mei 2026

