Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Dili – Timor Leste

Dili – Timor Leste

Selasa siang, 5 Maret 2013, Captain Wiyanto membawa pesawat Boeing B-734 Merpati Nusantara MZ-8480 mendarat mulus di landasan pacu. Jam tangan menunjuk pukul 14.05 waktu Dili, satu jam lebih awal dari Bandara Ngurah Rai Bali.

Kami turun dan menuruni tangga pesawat, hujan baru saja berhenti tampaknya. Di tepi apron sebuah papan berwarna hijau bertuliskan Welcome to International Airport Presidente Nicolau Lobato Dili. Di sebelahnya ada sebuah banner selamat datang bagi para peserta Dili International Seminar Development for all : “Stop conflict, build states and eradicate poverty” yang sudah berlangsung 25-28 Februari 2013.

Ini perjalanan kedua saya ke Dili. Yang pertama beberapa tahun lalu, ketika mengikuti penerbangan perdana Batavia Air dari Bandara Ngurah Rai ke Dili, tetapi hanya beberapa jam saja karena pesawat segera kembali lagi ke Bali. Kali ini saya diundang pemerintah Timor Leste mengikuti Public-Private Partnership Investor Conference mengenai pembangunan pelabuhan laut dan bandar udara, diselenggarakan oleh Ministry of Foreign Affairs tanggal 6 – 8 Maret 2013.

Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato

Rabu 6 Maret 2013, kami bertemu dengan Bapak Romualdo petinggi di DGCA sekaligus juga Airport Manager. Beliau banyak membicarakan mengenai dunia penerbangan Timor Leste. Bandara internasional Presidente Nicolau Lobato memiliki panjang landas pacu 1.850 x 30 meter ini akan dikembangkan.
Runway-nya akan diperpanjang menjadi 2.000 meter. Dan jika akan diperpanjang lebih dari 2.000 meter, berarti harus menyeberangi Sungai Comoro. Sementara perpanjangan ke arah laut biayanya sangat besar karena kedalaman lautnya antara 60-80 meter. Proyek besar yang akan dikerjakan Timor Leste adalah pembangunan pelabuhan laut di Tibar dan pengembangan Bandara Internasional Nicolau Lobato.

Keesokan harinya kami mengikuti konferensi di Kementrian Luar Negeri. Keynote speaker-nya Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao. David Martz menjadi pembicara di International Finance Corporation (IFC) mengenai rencana pembangunan Bandara Internasional Presidente Nicoalu Lobato, dulu namanya Bandara Comoro. Pemerintah Timor Leste punya 2 proyek besar yaitu membangun Pelabuhan Laut Tibar dan mengembangkan Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato. Dia menjelaskan bahwa landasan pacu akan diperpanjang, dari 1.850 x 30 meter menjadi 2.000 x 45 meter. Jika perkembangan traffic-nya cukup, akan diperpanjang lagi menjadi 2.500 x 45 meter, menyeberangi sungai Comoro.

Sekarang bandara ini masih melayani penumpang rata-rata 200 ribu orang per tahun, angka yang sebenarnya masih jauh untuk membuat bandara Nicolau Lobato mencapai titik impas, apalagi memperoleh laba. Pemerintah mesti ikut memberi subsidi sebelum perkembangan traffic cukup untuk mendapatkan pendapatan bandara.

Menulis Untuk Menginspirasi

Timor Leste luasnya 14.600 km persegi, jumlah penduduk 1,1 juta dan 75% diantaranya tinggal di Dili, sisanya tersebar di distrik-distrik. Negeri ini sekarang sedang mempersiapkan pembangunan di semua segi. Timor Leste belum mempunyai mata uang sendiri. Saat ini masih menggunakan mata uang dollar Amerika, tetapi untuk uang recehan lebih kecil dari USD 1, Timor Leste sudah memiliki mata uangnya sendiri yaitu Centavos. Pemerintah masih memperhitungkan kondisi perekonomian sebelum membuat mata uang sendiri.

Di Dili dan Timor Leste, bahasa pengantar campuran antara bahasa Tetun, Portugis, Inggris, dan Indonesia. Di kota masih banyak yang berbicara dengan bahasa Indonesia, selain itu penduduk banyak berbicara bahasa Portugis, Inggris dan Tetun. Semakin banyak penutur bahasa Indonesia, barangkali karena acara TV Indonesia banyak disaksikan di Dili. Meskipun begitu, pemerintah sedang menyiapkan undang-undang agar bahasa Tetun diajarkan secara resmi di sekolah-sekolah.

Selama di Dili kami menginap di Beach Garden Hotel di tepi pantai. Pada waktu jamuan makan malam kami bertemu rekan-rekan dari Kabiran Group perusahaan yang bergerak di bidang logistik dan alat berat. Direkturnya adalah Jose Nuno Lopez Guterres, panggilan akrabnya Nuno. Dalam percakapan yang akrab dan bersahabat, kami ngobrol tentang banyak hal.

Nuno yang dulu adalah seorang mantan komandan Fretilin, bercerita panjang tentang masa “perang” jaman dahulu. Perang yang menurut dia menjadikan orang menjadi buas, dan sebenarnya tidak ada gunanya. Dia bercerita detil bagaimana ketika dia bergerilya di hutan selama lebih dari 6 tahun, tidak ada supplai makanan dan harus terus bergerak dalam kekejaman medan pertempuran. Dia bahkan pernah ditangkap oleh Prabowo Subiyanto dua kali. Itu suatu masa yang sudah berlalu dan sungguh amat kelam.

“Pantai sepanjang jalan Avinida da Portugal”
Avinida da Portugal

Kamis sore itu matahari tertutup awan, hujan baru saja berhenti beberapa jam yang lalu. Pantai di depan Garden Beach Hotel tempat saya menginap sedikit pasang. Saya berjalan di pantai di sepanjang jalan Avinida da Portugal. Beberapa kapal tampak sandar hanya beberapa ratus meter dari garis pantai, itu menunjukkan lautnya dalam. Agus yang menemani saya berjalan mengangguk mengiyakan. Menurut dia hanya kurang dari 500 meter dari garis pantai, kedalaman lautnya sudah lebih dari 60 meter! Pantas banyak kapal sandar. Ada satu-dua yang ukurannya besar, kalau di Tanjung Priok kapal sebesar itu mesti sandar agak jauh dari dermaga.

Saya berjalan menyusuri pantai ke timur, ombak laut berdebur; airnya kecoklatan. Kaki yang menginjak pasir rasanya mirip seperti di pantai Parangtritis Jogya. Di sebelah kanan saya ada sebuah gedung panjang putih dengan atap coklat Ministerio Dos Negocios Estrangeiros RDTL (Republic Democratic Timor Leste) – Kementrian Luar Negeri.

Kami terus berjalan dan di depan kami dari kejauhan ada sebuah menara putih dengan atapnya kehijauan, sebuah light house, mercusuar. Tidak begitu tinggi memang, tapi letaknya sangat strategis.

Di ujung pandangan di atas sebuah tanjung yang menjorok ke laut, tampak sebuah patung Yesus Kristus berdiri dan mengembangkan tangannya menghadap ke arah laut, Cristo Rei. Jaraknya dari sini kira-kira 8 km. Membayangkannya, pasti sangat eksotis melihat Dili dari ketinggian di sana. Diam-diam saya berniat untuk naik dan melihat keindahan kota Dili dari atas sana besok pagi.

Kami terus berjalan menyusuri pantai. Air lautnya coklat. Di sebelah kanan, jalan raya yang menyusur pantai sampai ke ujung Cristo Rei, kira-kira sejauh 10 km. Sayangnya tepat di bawah Cristo Rei, jalan raya ini putus terkena abrasi laut. Konon pemerintah akan memperbaikinya pada tahun 2015 nanti. Di kejauhan bukit menjulang tinggi, mirip di kota Balikpapan. Setelah beberapa ratus meter dari pantai, tanahnya membukit.

Menjelang sampai di Mercusuar, ada sebuah pohon beringin tua dan sangat besar. Akar-akarnya bergelantungan, daunnya lebat dan sangat rimbun. Di bawahnya seorang anak muda menjaga lapaknya, menjual ikan segar. Di sepanjang pantai di sekitar beringin tua, beberapa orang juga menjual ikan yang barangkali baru ditangkap karena hanya beberapa ekor saja dan digantung di sebuah tongkat kayu sederhana.

Sampai di mercusuar sebenarnya saya ingin terus berjalan menyusuri pantai, hanya saja hari sudah mulai gelap, kami pun berbalik arah kembali. Di depan mercusuar ada sebuah rumah yang dahulu adalah rumah tinggal Panglima TNI. Di sampingnya kantor pariwisata. Matahari sore tertutup awan.

Dan pada sore hari para penjual makanan sudah bersiap-siap menggelar dagangannya di tepi pantai. Mereka sibuk menyiapkan kursi-kursi plastik diatur di atas pasir pantai, seperti di Jimbaran-Bali. Yang lainnya sibuk membakar jagung, ikan, ayam ada juga sate babi. Makanan dihidangkan bersama ketupat sebesar kepalan tangan anak kecil. Sungguh sebuah alternatif yang pantas untuk menikmati suatu senja di pantai Dili.

Salah satu kisah yang mengharukan dan menyentuh hati, diceritakan Nuno Lopez Guterres ketika kami makan ketupat di tepi pantai Garden Beach, di tepi jalan Avinida da Portugal Dili. Di sebuah sore yang teduh, diantara debur air laut, dia mengisahkan kembali kenangannya :

Nuno ditangkap oleh TNI, dibawah komandan Serma Sumardi. Menurut Nuno, Sumardi rajin shalat. Jika anak-buahnya memukuli Nuno, Sumardi melarangnya. Dia justru banyak berbicara dan saling membagi pengalaman dengan Nuno. Tidak jarang, alih-alih dipukuli, Nuno bahkan diajak makan satu meja bersama Sumardi. Bukan seperti musuh, diantara mereka bahkan terjalin persahabatan. Sampai suatu saat Nuno bisa melarikan diri dan kembali ke hutan, berjuang bersama rekan-rekannya.

Pada suatu ketika Nuno bersama pasukannya berencana mencegat pasukan TNI. Tempatnya sudah ditentukan. Pada sebuah jalan menanjak dan berbelok diantara dua perbukitan yang tinggi, di situ mereka menghadang sekelompok pasukan TNI.

Nuno bertugas mengeksekusi mobil paling depan. Rekan-rekannya bagian mobil yang di belakang. Ketika mobil di belakang sudah digranat dan prajurit TNI keluar dari atas bukit mereka menembakinya, satu demi satu prajurit TNI berguguran.

Giliran mobil di depan yang menjadi target Nuno. Prajurit di dalamnya melompat keluar dan berlindung di balik pohon. Nuno melihat dengan jelas targetnya. Tetapi alangkah kagetnya dia, karena targetnya ternyata Sumardi! Lalu dia memerintahkan anak-buahnya untuk menahan tembakan.
Nuno melompat turun sambil berteriak memanggil nama Sumardi, sambil menyebut dirinya. Mendengar namanya disebut oleh Nuno yang berada di belakang pohon dia berlindung, Sumardi mengangkat tangan dan membuang senjatanya!

Nuno mendekat dan memberi hormat. Dan mereka saling berpelukan dengan erat. Nuno kemudian mempersilahkan Sumardi untuk kembali. Sumardi bilang, kalau kembali, dia harus membawa senjatanya, jika tidak lebih baik dia ditembak saja! Nuno mengangguk, bahwa Sumardi boleh pergi membawa senjata dan mobilnya. Teman-teman Nuno berteriak-teriak, komplain dan minta agar Sumardi ditembak saja. Nuno bicara dengan tegas, tidak ada sebuah tembakan pun yang meletus, sampai Sumardi pulang kembali.

Sebuah kisah yang mengharukan di tengah-tengah pertempuran yang buas, antara membunuh atau dibunuh! Barangkali karena beberapa kejadian tidak biasa seperti itu, Nuno diberi nama julukan Sabarai.
Para pejuang Timor Leste memiliki nama julukannya masing-masing yang terus dipakai sampai mereka keluar dari hutan, misalnya: Kay Rala Xanana Gusmao Perdana Menteri, bahkan Presiden Timor Leste Tuar Matan Ruak, konon itu juga nama julukan ketika beliau di hutan.

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Idul Fitri di Tengah Rudal

Share