Oleh : Ki Pandan Alas
Dalam Babad Tabah Jawa, faktor wanita sangat berperan. Itulah mengapa kemudian menjadi adagium : “Swargo nunut, neroko katut!”
Wanita, bukan sekedar manifestasi lambang keperkasaan Raja, tetapi diyakini wanita tertentu mampu memberikan keturunan yang kelak menjadi raja. Selain itu,
wanita juga digunakan menjadi bagian dari strategi.
WANITA & STRATEGI
Ketika Panembahan Senapati dilawan oleh Ki Ageng Mangir. Sang Raja tidak pernah bisa menundukkan Ki Ageng Mangir yang sakti, pilih tanding. Beliau lalu menyuruh putrinya Pembayun untuk menjadi penari tlédèk, memikat Ki Ageng Mangir.
Akhirnya, Pembayun dijadikan istri Ki Ageng. Tetapi perlawanan Ki Ageng Mangir tidak surut, tetap berjalan terus, walaupun dia tahu Sang Raja ternyata adalah musuh, sekaligus mertuanya.
Sampai akhirnya, Ki Ageng Mangir dipanggil menghadap. Ketika sowan, Ki Ageng Mangir menghaturkan sembah di bawah kaki Panembahan Senapati.
Ketika sedang sungkem itulah, kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke batu yang menjadi alas kaki Penembahan Senapati. Kepalanya pecah. Dan Ki Ageng Mangir wafat.
Di Kota Gede, makamnya sebagian berada di dalam tembok, sebagian berada di luar. Maknanya, dia adalah menantu sekaligus musuh.
PIHAK KETIGA
Pihak ketiga yang ikut bermain dan yang paling dituduh adalah Kumpeni, VOC atau Belanda.
Mereka itu sebetulnya targetnya adalah keuntungan.
Tidak peduli siapapun yang berkuasa dan jadi raja, yang penting mereka mendapatkan keuntungan. Adakalanya harus menyingkirkan raja-raja yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Caranya dengan diadu domba dan dibenturkan, sehingga yang terpilih adalah yang sesuai dengan keinginan Kumpeni dan yang memberikan keuntungan besar.
Meskipun begitu, banyak catatan tentang jiwa kesatria, perjuangan demi negara dan demi kemanusiaan. Hanya saja, ketika mereka sudah sampai di titik tertinggi, menjadi raja, lalu lupa diri.
Sebab kekuasaan itu membius. Kekuasaan yang sangat besar membuat lupa diri dan mendorong untuk berbuat sesuatu yang konyol.
JAMAN NOW
Babad Tanah Jawa ini seperti pola yang menggambarkan proses kekuasaan di hampir seluruh bagian di dunia. Polanya hampir sama. Mirip.
Perjalanan menuju ke tingkat yang atas tertinggi melalui beberapa intrik yang kira-kira akan serupa dengan yang diceritakan di Babad Tanah Jawa ini.
Bahkan yang terjadi di jaman now yang sekarang ini, sebetulnya itu juga fotocopy dari masa silam. Hanya cara eksekusinya yang tidak frontal.
Dulu menyingkirkan lawan adalah dengan mematikan dan membunuhnya bahkan sampai mematikan seluruh keluarga dan pendukungnya.
Kalau sekarang membunuh adalah dengan mencopot jabatannya, membuang pengaruhnya dan menyingkirkan dari orang-orang sekelilingnya.
Jadi, kalau sudah tersingkir praktis sama dengan mati, tidak bisa eksis lagi.
RELEVANSI TERKINI
Begitu juga di dunia. Terjadi juga. Yang kuat dengan seenak perutnya menyerang negara lain, merusak kota dan bangunan, membunuhi tentara dan rakyat, membunuh pemimpinnya, dengan alasan yang dibuat-buat sendiri.
Itu pun tidak dilakukan sendiri, tetapi dengan cara mengeroyok dengan dibantu oleh sekutunya.
Sedangkan kasus Eipstein itulah versi terkini dari manifestasi “wanita.”
Persis seperti kisah di Babad Tanah Jawi dulu …
KPA : Senin, 20 April 2026

