Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Babad Tanah Jawi (1)

Babad Tanah Jawi (1)

Oleh : Ki Pandan Alas

Punya banyak waktu luang, jadi sempat baca buku Babad Tanah Jawi.
Buku ini diterjemahkan dari buku berjudul “Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647.” Disusun oleh W.L. Olthof di Leiden, Belanda, tahun 1941.

Babad adalah karya tulis yang menceritakan tentang pendirian sebuah kerajaan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kerajaan tersebut.

Oleh karena seringkali memuat sejarah dan asal-usul tokoh atau raja serta para leluhurnya. Kadang menceritakan secara berlebihan. Oleh karenanya, babad sering dianggap alat legitimasi bagi raja yang berkuasa.

Babad Tanah Jawi membahas tentang berapa hal yang menjadi tolok ukur kehidupan atau perjuangan ketika menuju tampuk kekuasaan tertinggi.

 

HARTA, TAHTA & WANITA

Orang Jawa mengenal Harta, Tahta, Wanita. Tiga hal itu selalu ada, di balik setiap perjuangan mencapai tingkat tertinggi, menjadi seorang Raja!

Pelajaran Dari Laga Final 2026

Perjuangan mencapai puncak, harus mengatasi rintangan, menundukkan musuh, memiliki kesaktian dan telik-sandi (intelijen). Juga mesti mempunyai konsep, strategi, manajemen, biaya besar, memiliki pengikut, teman perjuangan dan sekutu.

Sebab sesama saudara bahkan sekandung dan yang tadinya kawan bisa berbalik menjadi lawan. Mesti siap-sedia menghadapi pengkhianatan. Dan ada yang menggunting dalam lipatan. Secara terbuka atau diam-diam.

Oleh sebab itu, sejak masih muda dipersiapkan untuk menuju ke tampuk pimpinan. Belajar ilmu kesaktian, mencari pengikut, negosiasi.

Bahkan jika perlu, harus bisa bertindak kejam, atas nama demi negara dan harga diri.

Mereka belajar bagaimana mempengaruhi orang-orang agar mau menjadi pengikutnya. Juga mereka belajar kepada guru spiritual. Bekal untuk menjadi raja kelak, jika bisa dan sempat.

Raja-raja yang sukses dan menjadi raja besar memiliki pandangan hidup yang universal didukung pemahaman spiritual. Dan mengerti ketika menjadi Kawula dan ketika jadi Gusti.

Ketika waktunya tiba harus harus berhenti menjadi raja, rata-rata para raja itu, sudah punya firasat bahwa waktunya akan selesai.

Oleh sebab itu, dia mempersiapkan calon pengganti, walaupun seringkali tidak terjadi.

Itu beberapa bentuk kearifan lokal, yang ditulis dalam Babad Tanah Jawi ini.

(bersambung)

KPA : Senin, 20 April 2026

Penulis

Heru Legowo

Editor

Redaksi

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Brasil Pulang

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Share