Selasa, 24 November 2009 jam 11.00 check out dari Hotel Hilton Washington. Sudah beres. Sore ini adalah perjalanan dengan bus Washington-New York. Rencananya akan mengunjungi New York dalam 2 hari. Sekarang nunggu Pak Rachmad dari KBRI. Agak telat sedikit, karena KBRI sibuk karena ada perpisahan Duta Besar Indonesia untuk Amerika. Sebentar kemudian, sms-nya masuk sudah siap parkir di pinggir jalan. Kemudian kami meluncur keluar. Menuju ke tempat bus antara kota. Kayaknya semua bus penuh, menjelang Thanksgiving Day.
Pak Rachmad menghubungi Megabus dan melakukan transaksi pembelian tiket bus, dengan kartu kredit. Harga tiket bus ke New York $25, ada tambahan $4 untuk proses booking yang mendadak. Jadi harganya $29. Berangkat jam 15.30. Sambil menunggu, beli burger Mc.Donald dulu, untuk bekal di jalan.
Jam 15.15 sebuah bus besar bertingkat dua, parkir di tepi jalan yang agak luas. Penumpang antri di pintu Megabus. Sopir yang merangkap kondektur ngecek, tiket, kode booking, atau memberikan tiket bagi yang belum. Saya masuk setelah menunjukkan kode booking. Naik ke tingkat atas, dan duduk di tepi jendela, biar lebih luas melihat sekeliling.
Dan jam 15.30 persis, Megabus berangkat. Penumpang terisi hampir 2/3 nya. Yang menarik beberapa penumpangnya, terutama anak-anak muda langsung membuka laptopnya. Ada yang nonton film, main game dan menyelesaikan tugas atau pekerjaannya.
Perjalanan lancar, hanya pada beberapa rute lalu lintas sangat padat. Di highway juga padat, kendaraan 3 jalur penuh, seperti di Tol Jagorawi arah Bogor-Jakarta kalau hari Minggu sore. Begitu deh. Megabus hanya berhenti sekali di tengah perjalanan, untuk menaikkan penumpang tambahan.
New York’s down town view
Akhirnya jam 20.30 Megabus tiba di New York. Parkir di tepi jalan, dan penumpang pun turun. Welcome to New York!
Ajaib! Sampai juga akhirnya ke sini. Turun dari bus dan memperhatikan situasi sejenak. Dan melambaikan tangan, mencari taksi. Dan sebuah taksi berwarna kuning berhenti.
“Where are you going, man?” Dan saya meminta diantar ke Hotel Algonquin 59th Ave 44th street. Tanpa banyak tanya, sopir taksi berjalan sambil menekan tombol argo. Kira-kira 15 menit, taksi berhenti. Argonya menunjuk $ 6.75. Murah juga kan? Kemudian check in, dan dapat kamar nomor 1201. Alhamdulillah. Yang penting sudah dapat tempat istirahat dulu.
Setelah istirahat sebentar. Jam 22.30, sudah malam sih, tetapi harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Jadi keluar dari kamar. Mau kemana yah? Jalan aja dah pokoknya, dan jalan lurus melalui 2 blok. Eh, ternyata sampai di Times Square. Ramai banget. Orang-orang berjalan hampir tanpa berhenti.
Di pojok jalan ada seorang pelukis. Berhenti sejenak, dan menyempatkan diri memperhatikan lukisannya. Dan dia menawarkan untuk dilukis hanya dalam 10 menit, bayarnya $30. Ya udah iseng saja. Saya duduk dan dia mulai sibuk melukis.
Orang-orang yang lalu lalang memperhatikan kami dan coretan pelukis. Cuek aja, tokh mereka nggak tau siapa kita kan? Hanya saja mereka pada berkomentar, melihat ketrampilan pelukis jalanan tersebut. It’s really, really good, man!
Kira-kira 15 menit selesai. Hasilnya? Wah, kok mirip kayak orang Amerika Latin? Ya sudah lumayan dah, untuk kenang-kenangan dari New York! Terus berjalan lagi, melihat Times Square. Ini metropolitan yang sesungguhnya. Times Square terbentuk dari dua buah jalan yang berdekatan. Dan ruang di tengahnya yang terbentuk diantara dua buah jalan tersebut, dibiarkan menjadi lahan yang terbuka.
Inilah Times Square! Gedung di kanan kirinya menjulang tinggi, bertingkat ada yang lebih dari 70-an. Di dinding-dinding gedung ada display yang luar biasa besar. Iklan dan himbauan pemerintah. Jadi anda bisa bayangkan, sebuah layar display yang lebarnya 2-3 tinggi gedung dan panjangnya lebih dari 25 meter. Besar sekali dan spektakuler! Yang tampak menyolok, iklan American Eagle produk pakaian. Di pojok yang strategis ada pos polisi, New York Police Division. Lampunya yang terang di atasnya berkedip-kedip, untuk menarik perhatian orang pada lokasinya.
Di tepi jalan ada kerumunan orang, saya ikut nimbrung. Ternyata ada seorang yang mirip Jepang melukis dengan cat semprot. Cekatan sekali hanya kurang dari 5 menit, sebuah lukisan tentang panorama New York selesai dibuat. Dan dihargai $20. Beberapa orang memberikan uang untuk membelinya.
Dia terus membuat beberapa bentuk lukisan panorama New York dengan motif dan warna berbeda. Orang-orang bertepuk tangan meriah, setiap kali dia menyelesaikan lukisannya.
Tidak terasa sudah jam 12 malam. Times Square masih rame juga. Beberapa toko sudah tutup, walaupun lampunya masih terang benderang. Dingin mulai terasa. Tangan terbenam di saku jaket. Telinga terasa kebas, dingin banget. Sambil berjalan pulang ke hotel, iseng-iseng beli daging panggang Kebab, dan sebotol coca cola. Lebih baik istirahat dulu, menyimpan tenaga untuk perjalanan esok hari.

Time Square close to midnight
Hari berikutnya, masih di Hotel Inqonguin room 1201, New York. Bangun pagi, sarapan dan bersiap keluar. Tanya di resepsionis tentang bus pariwisata. Dan dengan tourist map di tangan, berjalan ke arah Times Square. 10 menit berjalan sudah tampak seorang berkulit hitam sedang menawarkan bus city tour Hop On Hop Off. Harga tiket untuk 2 hari $54. Jadilah bersama beberapa turis dari Italia, kami membeli tiket Bus Gray Line.
Berjalan 2 blok, ada sebuah bus Gray Line bertingkat dua, yang kebetulan sedang menunggu penumpang. Setelah dicek tiketnya, naik ke atas tingkat atas. Cari posisi dengan pandangan lepas untuk menikmati keindahan New York. Bus berjalan perlahan.
Seorang wanita pemandu wisata menjelaskan apa yang berada di sekeliling kami, jalan, jembatan, gedung, perumahan, kantor dan sebagainya. Bahasanya jelas dan mudah diikuti. Setiap ada bus stop dan bus berhenti, dia selalu mengatakan: jika ada tip, maka kami akan berterimakasih. Gratuity is appreciated. Lugas dan langsung!
Bus berjalan dengan kecepatan sedang, lalu lintas belum padat. Mengelilingi New York dan memperhatikan dari atas bus, memberikan kesan berbeda dari imajinasi. New York tampak manis, friendly, dan lugas.
New York, ternyata nggak seperti yang ada dalam bayangan saya.

Bus city tour Hop On Hop Off
Kota metropolis ini memberi kesan ramah dan mudah. Ramah dengan fasilitas umumnya. Mudah dalam mencapai dari suatu sudut kota, ke bagian kota lainnya yang akan kita kunjungi.
Udara yang dingin menerpa. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja jika angin berhembus, dinginnya menjadi berlipat. Harus kuat bertahan dari udara dingin, agar tetap dapat melihat New York dari atas bus.
PULAU LIBERTY
Pagi ini, targetnya adalah melihat Patung Liberty. Oleh sebab itu, ketika pemandu wisata menjelaskan tentang Liberty, saya lompat turun. Berjalan ke tempat ferry untuk menyeberang ke pulau Liberty, dimana Patung Liberty terletak. Berjalan 10 menit dari tepi jalan dan antri untuk beli tiket. Harga tiket $12 per orang, tidak termasuk naik ke atas Patung. Sayang cuaca mendung, tidak bagus untuk memotret.
Kami antri untuk naik ferry. Pemeriksaan sebelum masuk kapal ketat sekali. Seperti di bandara saja. Di pintu X-Ray semua penumpang harus memasukkan barang bawaannya, melepas sepatu, jaket, juga membuka ikat pinggang! Wuihh, ketat deh pokoknya. Ferry penuh sekali. Dek atas bawah penuh. Naik ke atas juga padat. Udara sangat dingin. Beberapa burung Seagul terbang rendah sekali di atas kepala. Kadang-kadang “berhenti” di udara, berbelok tajam dan menyambar makanan yang dilemparkan ke atas. Keren banget, melihat atraksinya.
Kira-kira 15 menit lebih sedikit, ferry Miss of New York mendekati Pulau Liberty. Dan Dewi Liberty semakin jelas, walaupun cuaca mendung dan sedikit berkabut. Ferry merapat, dan penumpang antri dengan tertib turun. Di dermaga penumpang yang akan balik ke New York, antri bagaikan ular; panjang banget.
Setelah berjalan sebentar, dan akhirnya … Patung Liberty di depan mata! Rasanya seperti mimpi, sampai juga di sini akhirnya! Patung Liberty tinggi menjulang dan berwarna hijau. Tingginya 46 meter, jika dengan alas dan dasar, tingginya 93 meter.
Patung Liberty, diresmikan 28 Oktober 1886, untuk memperingati 100 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Diberikan kepada Amerika Serikat oleh rakyat Perancis, mewakili persahabatan antara ke dua negara.
Mengapa Liberty berwarna hijau? Ternyata warna itu adalah karat tembaga yang telah terjadi selama puluhan tahun. Warna hijau justru semakin membuat Liberty tampak anggun, dan memancarkan wibawa sebagai dewi perdamaian. Jadi ternyata, butuh waktu lebih dari 30 tahun, untuk menjadikan Liberty berwarna hijau.
Frédéric Auguste Bartholdi desainer patung. Maurice Koechlin kepala insinyur Gustave Eiffel perusahaan teknik dan perancang Menara Eiffel, yang merancang struktur dalamnya. Alasnya, dirancang oleh arsitek Richard Morris Hunt, dan Eugène Viollet-le-Duc bertanggung jawab kontruksi pembuatan patung tembaga.
Berkeliling sebentar, sayang tidak punya kasempatan untuk naik ke atas patung Liberty. Di bawah patung ada restoran dan souvenir shop. Pengunjung datang dan pergi dalam kelompok maupun sendiri-sendiri. Gerimis mulai turun.

Mengapa Liberty berwarna hijau?
Saya bergegas untuk antri naik ferry kembali. Cukup lama menunggu dan akhirnya ferry pun datang juga. Tujuan berikutnya Ellis island.
ELLIS ISLAND
Pada jaman dulu, pulau Ellis menjadi entry point ke Amerika. Semua imigran datang pertama kali ke pulau kecil ini. Kemudian petugas akan mendata para imigran tersebut, memeriksa barang-barang bawaannya.
Jadi dari sinilah, kata imigrasi barangkali bermula. Proses mencatat memproses barang bawaan dan menangani para imigran, kemudian disebut sebagai imigrasi! Dari pulau inilah para imigran memasuki Amerika dan memulai perjuangannya mencari hidup baru, di tanah baru, Amerika!
Ellis Island, setelah ferry sandar kami diarahkan masuk ke gedung imigrasi. Di dalamnya berbagai macam ruangan display. Ada ruangan yang memajang barang-barang bawaan para imigran dulu. Ada kissing room. Di ruangan ini konon jaman dulu, tempat bertemunya para imigran dan keluarganya. Suami-isteri, bapak-anak, kakak-adik, keluarga bertemu di untuk pertama kali setelah beberapa tahun berpisah.
Berbagai macam cara dilakukan oleh masing-masing bangsa dan etnis dalam melampiaskan kerinduannya. Melalui peluk dan cium. Oleh karenanya dinamakan sebagai kissing room. Di lantai dua ada sebuah hall besar dan luas dengan dua bendera Amerika yang besar di dindingnya. Ruang pemrosesan imigran.
Di ruang diplay ada quiz bagaimana nama negara-negara bagian Amerika tercipta. Kebanyakan tercipta dari kata dan nama suku asli dimana negara bagian itu berada. Sayang tidak sempat mencatat dan memotretnya.
Mengamati gedung imigrasi di pulau Ellis memberikan pemahaman yang lebih dalam, bagaimana Amerika terbentuk dari hampir berbagai macam etnis dan suku bangsa di dunia. Jadi Amerika adalah melting pot dari bangsa-bangsa.
Hampir 30 menit di sini, setelah merasa cukup penulis kembali ke dermaga menunggu ferry kembali ke New York. Antrian tetap panjang, pengunjung bergantian datang dan pergi. Hampir tanpa berhenti.
Kembali ke New York dan beberapa bus Gray Line sudah menunggu di bus stop. Lompat ke atas ke tingkat dua. Pemandu wisatanya seorang pemuda keturunan Mesir, mulai menjelaskan situasi kota. Dia berceritera bahwa New York dengan penduduk dua juta orang, merupakan melting pot terbesar di Amerika.
Hampir seluruh etnik dan bangsa ada di sini. New York adalah walking city. Semua fasilitas dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki. Itulah mengapa, banyak penduduk New York bahkan tidak mempunyai SIM. Mereka lebih mengandalkan transportasi umum: bus, taksi, kereta subway sangat efektif, efisien dan murah.
Pompa bensin hanya ada 2 di dalam kota New York. Lainnya berada di jalan tol atau di pulau Manhattan. Menjelang sore, saya menyempatkan diri turun di City Park di tengah kota. Taman ini dulunya adalah batuan keras dan bukit-bukit gundul.

City Park New York
Pemerintah sengaja mengubahnya menjadi taman kota yang indah dengan danau dan penghijauan. Taman di tengah kota memberikan refreshing, paru-paru kota dan tempat melepaskan stress.
Berjalan di taman kota selain sehat, memberikan inspirasi dan menimbulkan ide baru. Ini barangkali yang perlu dipikirkan untuk Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.
Gerimis mulai turun, buru-buru ke bus station menunggu bus Gray Line berikutnya. Benar saja, setelah naik ke atas bus, hujan turun. Kembali ke Times Square saja dah. Cukup untuk hari ini. Besok adalah Thanksgiving, pasti ramai sekali.

