Spiritual
Home / Spiritual / Taubat

Taubat

Masjid Blangkon Al-Fath mengadakan pengajian rutin. Dan pada hari Ahad Pon tanggal 28 Maret 2021, DR. Abdul Jalil Al Hafidz yang memberikan materi pengajian. Beliau adalah dosen Ilmu Tafsir Al-Quran dan Hadist) UIN, juga Pengampu Hafalan Al-Quran Pondok Pesantren Al-Munawwir. Pengajian Ahad ini adalah yang kedua tentang Surat Al-Fatihah, sebagai lanjutan dari pengajian bulan lalu.

Beliau mengawali pengajian dengan mengingatkan bahwa kita berada pada bulan Syaban. Semoga berkah Syaban akan mengantarkan kita sampai ke bulan Ramadhan. Untuk menghadapi Ramadhan perlu persiapan. Persiapan lahir dan batin.

Persiapan lahir penting. Menjaga agar badan tetap sehat, menyiapkan kebutuhan selama berpuasa dan sebagainya. Juga persiapan batin lebih penting lagi, membersihkan hati dan jiwa. Membasuh bercak-bercak yang mengotori hati, yang berupa iri hati, dengki, sombong, riya’ dan sebagainya. Persiapan batin adalah membersihkan hati dari penyakit-penyakit tersebut tadi. Penyakit yang hanya orang yang bersangkutan yang tahu, sebab orang lain tidak tahu. 

Kemudian bertaubat atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Hanya saja kebanyakan manusia melakukan taubat, sesudah melakukan dosa besar. Rata-rata baru bertaubat, kalau sudah merasa berbuat dosa. Taubatnya nanti kalau berdosa. Padahal Rasulullah selalu mengingatkan ummatnya agar bertobat dan mohon ampun kepada Allah. Rasulullah bertaubat 100 kali sehari. 

Untuk bertaubat harus memenuhi beberapa syarat, antara lain : 

  • Menjauhi hal-hal yang buruk dan dilarang dan kembali kepada yang terpuji. 
  • Ada rasa menyesal telah melakukan kesalahan di masa yang lalu
  • Berniat sungguh-sungguh, untuk tidak melakukannya lagi.

Ketika selesai puasa dan setelah Idul Fitri, kita semua selalu bermaafan. Saling meminta dan memberi maaf. Untuk itu mesti diyakinkan, ketika meminta dan memberi maaf, seyogyanya dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Mesti ada kecocokan antara yang diucapkan, dengan yang sebenarnya ada didalam hati. Marilah meyakinkan lagi, semoga maaf yang kita mintakan dan berikan benar-benar lahir batin. Bukan hanya ada di mulut saja. 

Allah adalah rabbul alamin, penguasa seluruh alam semesta. Rahman rahim memberikan kasih sayang di dunia dan di akhirat. Dan Maliki yaumidin penguasa di hari pembalasan, ketika kelak di akhirat.

Itulah pentingnya bahwa sebelum ibadah, kita harus mengenal Allah terlebih dahulu. Sebab orang melakukan ibadah terdiri dari tiga tingkatan. Pertama ibadah karena mengharapkan pahala dan masuk surga. Kedua, ibadah karena takut neraka. Ketiga ibadah karena sudah mengenal dirinya dan Allah. Pada tahapan ini, orang melakukan ibadah karena membutuhkan Allah. Bukan lagi hanya karena ingin mendapat pahala, dan takut masuk neraka. Semata-mata melakukan ibadah, karena ingin bertemu dengan Allah.

Piramida Sakkhara

Iyaka nabudu wa iyya ka nastain. Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Manusia tidak memiliki daya apa-apa, kecuali dengan tauhid Allah. Dalam rangka memohon pertolongan itulah, manusia beribadah. Ibadah dilakukan juga dengan memohon pertolongan Allah, misalnya : Tauhid dari Allah untuk mengerjakan ibadah puasa.

Dan ketika melakukan ibadah ada syaratnya. Syarat itu berupa lahir dan batin. 

Syarat secara lahir adalah ibadah harus dilakukan sesuai dengan aturan dan syariat Islam. Jika tidak sesuai, maka batal ibadahnya. Misalnya : melakukan shalat tidak dengan wudhu, shalat tidak menghadap kiblat dan yang semacam itu. Sedangkan secara batin, ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Orang boleh saja mengatakan bahwa dia ikhlas, atau merasa sudah ikhlas, tetapi untuk ikhlas ini hanya Allah yang tahu. Ikhlas menjadi bagian dari rahasia Allah.

Rasulullah  berpesan kepada Mu’adz, agar selalu berdoa pada akhir shalat :

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni ibadatik. Artinya : “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir / mengingat-MU, bersyukur pada-MU, dan memperbagus ibadah pada-MU.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih).

Ihdinas shiratal mustaqim. Artinya : Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Ketika berdoa selalu dimulai dengan memuji kepada Allah. Kemudian bershalawat kepada Rasulullah. Baru sesudah itu memohon apa yang diinginkan dalam inti doa. Mengapa doa tidak dikabulkan? Mesti introspeksi diri. Barangkali ada yang haram dalam makanan yang dimakan, minuman, dan pakaian orang yang berdoa.

Memohon ijin dari Allah, agar setelah mengerjakan perintah-NYA tetap dapat secara istiqamah terus menjalankannya. Juga memohon tambahan hidayah. Sebab hidayah, juga seperti iman. Dapat bertambah dan berkurang. Oleh sebab itu kita memohon : “Ya Allah bimbinglah kami!”. Memohon kepada Allah, agar ditetapkan dapat berpuasa terus. Dan agar terus ditetapkan dalam Islam. 

Shiratal ladzina an’amta alaihim. Artinya : yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat. Ada yang berkata, bahwa yang penting mengikuti Al-Quran dan Hadits. Padahal seharusnya kita juga mengikuti contoh dan petunjuk dari para Aulia, mengikuti para Shalih dan yang telah diberi nikmat memahami Al-Quran dan Hadits dengan benar. 

Contoh : menjalankan ibadah haji. Mestilah mengikuti mereka yang sudah pernah haji. Lebih teknis lagi, mesti melewati proses manasik, belajar proses pelaksanaannya, mengikuti bimbingan muthawif. Memenuhi dan menjalankan rukun haji dan sebagainya. 

Ghairil maghtubi alaihim walad dhallin. Artinya : bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat. Yang dimurkai adalah kaum Yahudi. Dan yang sesat orang-orang Nasrani.

DR. Abdul Jalil Al-Hafidz menutup pengajian dengan mengajak semua peserta pengajian, untuk membaca Surat Al-Ashr :

Wal Ashr Innal insaana lafii khusr Illa ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati watawaa shaw bil haqqi watawaa shawbish shabr.

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Akhirnya, semoga pengajian akhir bulan Maret ini dapat meresapi hati semua peserta pengajian yang hadir dan mendengarkan dengan benar. 

Mudah-mudahan memberi pencerahan, meringankan, mencerahkan hati, dan kita mendapat hidayah-NYA untuk memahami dengan lebih mendalam. Doa tak putusnya selalu kita langitkan, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-NYA dan meridhai kita semua. 

 Aamiin

——————

Catatan : 

Ketika ngobrol di luar, setelah pengajian selesai. Beliau mengatakan sedikit terlupa untuk menyampaikan satu hal, yaitu bahwa Allah memberikan hidayah dua macam : Hidayatul Bayan dan Hidayatul Taufiq.

Hidayatul Bayan berupa keterangan atau petunjuk. Mereka memang menerima petunjuk, tetapi tidak mendapat taufik Allah; untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. 

Hidayatul Taufiq berupa pertolongan. Ini murni berada di tangan Allah. Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA. Ini berarti Hidayatul Bayan jika tidak disertai dengan Hidayatul Taufiq, bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna. 

Dan Allah SWT dapat menyesatkan, atau memberi petunjuk kepada manusia :

“Dan jika Allah menghendaki niscaya DIA menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-NYA dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-NYA. Tetapi kamu pasti ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl:93)

Penulis

Heru Legowo

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share