Catatan HLG
Home / Catatan HLG / Selamat Tinggal San Francisco

Selamat Tinggal San Francisco

Jumat 27 Nov 2009, jam 07.00 John Aponno rekan saya, seorang mahasiswa asal Ambon, menjemput di Holiday Inn Washington. Pagi ini pulang dari Washington ke San Francisco. Beruntung ada John. Dia mengantar saya melewati beberapa tempat yang belum sempat dilihat : Lincoln Memorial, World War II Memorial, dan Pentagon Memorial. Sempat berfoto sebentar di lokasi dimana teroris menabrakkan pesawatnya, ke gedung Pentagon yang terkenal itu.
Ketika sampai di parkir mobil Dulles International Airport, pak Rachmad dari KBRI sudah menunggu dan segera menemani penulis check in. Pesawat akan berangkat jam 08.30, transit di bandara Dallas Fort Worth, dan terus ke San Francisco. Ini penerbangan memotong benua Amerika, dari pantai timur, ke pantai barat Amerika. Perbedaan waktu antara Washington dan San Francisco, 6 jam.

Sore harinya, jam 17.20 Boeing B767 American Airlines mendarat mulus di bandara San Francisco Internasional. Cuaca cerah suhu 12 derajat. Masih sore, tetapi sudah gelap. Bandara International San Francisco tampak lebih necis. Karpetnya berwarna ungu kebiruan, memberi kesan elegan. Di terminal relatif sepi, jarang ada orang.
Ketika akan mengambil bagasi, suara dari sound system memberikan peringatan, agar berhati-hati kalau ada orang yang menawarkan bantuan transportasi. Gunakan yang resmi, taksi atau bus saja!

SAN FRANCISCO INTERNATIONAL AIRPORT
Saya menunggu bagasi. Setiap akan keluar bandara, selalu belum tenang ketika bagasi belum di tangan. Jadi konsentrasi tidak banyak untuk melihat situasi sekeliling bandara. Cari conveyor untuk memastikan dimana bagasi akan keluar. Proses bagasi cepat. Begitu turun dari pesawat, conveyor sudah berputar dan orang-orang mulai mengambil bagasinya. Berusaha ambil trolley, harus bayar $4. Nggak punya coin. Pakai kartu kredit. Ternyata nggak bisa kebaca. Bad Read! Waduh, bawa 2 koper neh. Dan rencananya hanya satu hari di San Francisco. Besok malam kembali pulang. Ya sudah, bagasi disimpan di locker saja, lebih mudah.

Terminal San Francisco International

Ternyata lockernya di terminal internasional, di lantai 3. Jadi harus naik 2 lantai. Wah … ya sudah ndorong koper dah. OK akhirnya ketemu locker. Dua buah koper dimasukkan ke X-Ray dulu, sebelum disimpan. Di Indonesia rasanya untuk locker tidak pakai X-Ray, ya? Billy petugas Airport Travel Service memberikan receipt : Ok here we go man. You can collect it tomorrow by 9 pm, or whenever you want, I’ll be here tomorrow. Sip. Beres dah.
Keluar cari taksi. Ternyata waktu turun ke bawah kurang satu lantai. Pantes kok nggak ada taksi? Di lantai ini hanya untuk penjemput dengan kendaraan khusus. Jadi turun satu lantai lagi. Sebenarnya ada kereta di dalam terminal domestik menuju ke kota, tetapi karena nggak yakin, mending naik taksi saja dah. Juga ada bus yang lebih murah, tapi belum familiar dengan rute dan lokasinya. Di samping itu waktunya juga mepet. Sebentar kemudian, sopir taksi dari China mengantar ke Renoir Hotel 45th McAllister Street. 30 menit sampai, ongkosnya $36.
Setelah proses check in, Ed petugas resepsionis memberikan kunci kamar di lantai lima, nomor 515. Yang penting nge-charge kamera, agar baterainya cukup untuk besok pagi. Setelah selesai pasang kabel charger, turun ke bawah. Makan malam dulu.

MEXICAN FOOD
Jalan sebentar di sepanjang jalan hotel. Baru jam 8 malam, tapi sudah sepi. Di jalan masih ada semacam trem, bentuknya seperti bus tetapi rodanya besi. Justru ini yang menjadi landmark kota San Francisco! Sebenarnya masih terus mau jalan, tetapi sepanjang jalan lebih banyak ketemu orang berkulit hitam. Dan mereka sudah bergaya seperti night life. Agak ngeper juga jadinya.
Ya sudah, masuk dan mencoba makan di restoran kecil yang bertuliskan Mexican Food. Coba masakan Mexico dah. Nggak inget nama makanannya, tapi telur Ala Mexicana. Seporsi besar masakan terdiri dari nasi, telur omlet yang dicampur sayuran, ada tomat. Rasanya mak nyuusss, karena lapar barangkali ya …
Habis makan, seorang gelandangan ibu-ibu tua, mendatangi : do you have any spare change? Tak banyak tanya, penulis berikan 1$. Dia bilang : thank you very much. What’s your name? You look familiar to me. I met you somewhere? My name July. Ternyata, sampai di San Francisco ada seorang gelandangan tua yang mengaku kenal! Hehe … barangkali memang hanya trik pengemis untuk meminta uang lebih. Tapi barangkali karena wajah ini mirip India ini, jadi dia kenal hehe … Dan karena kasihan penulis beri dia $1 lagi. Dan July membungkuk semakin dalam.

Piramida Sakkhara

Cabel car still working good in San Francisco

Pulang ke hotel lagi, jalan kaki … sekarang istirahat dulu menyimpan tenaga. Besok saja exploring San Fransisco. Dan sayup-sayup jadi terngiang lagunya Scott Mckensie ….
if you’re going to San Francisco
be sure to wear some flowers in your hair
if you’re going to San Francisco
you’re going to meet some gentle people there

Sabtu pagi, 28 Nov 2009, setelah sarapan pagi, penulis minta resepsionis booking city tour. Ada beberapa turist bus. Saya memilih yang melintasi jembatan Golden Gate yang terkenal itu. Harga tiket $35. Bayar lebih dulu di resepsionis $15; sisanya nanti dengan pengelola city tour. Bus akan menjemput jam 09.00. Sambil menunggu, penulis berjalan di sekeliling hotel. Renoir Hotel bertingkat 10, bukan hotel yang baru. Letaknya cukup strategis karena seluruh sisinya langsung berhadapan dengan jalan.
Jalan-jalan masih sepi. Di jalan utama ada rel untuk cable car. Bukan kereta gantung lho, tetapi semacam trem khusus yang menjadi ciri kota San Francisco. Pemerintah kota masih mempertahankan cable car. Semacam bus yang rodanya besi, punya rel sendiri dan digerakkan tenaga listrik ini, masih terus beroperasi. Pagi ini, matahari bersinar terang, pagi yang cerah.
Ketika sedang mengamati hotel, jalan dan lingkungan, saya melihat sebuah bus besar bertingkat dua membelok dan berhenti di depan hotel. Pasti ini busnya. Benar saja, ketika penulis mendekat sopirnya, dia bertanya : Mr. Heru? Dan mengajak naik ke bus.
Saya duduk di tingkat dua, agar leluasa melihat ke luar. Bus berjalan dengan perlahan, mengambil beberapa tamu di hotel lain dan di beberapa tempat. Kemudian ke travel agennya. Di situ penumpang membayar kekurangan harga tiket, dan diberi tiket berwarna warni sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. 10 menit registrasi. Dan si Chris, sopir bus tadi yang merangkap guide berkata : Red ticket holder, please come with me. Dan penulis mengikuti dia.
Jadilah penulis bersama dengan Chris. Bus tidak penuh, hanya terisi separuh lebih. Bus mulai berjalan perlahan. Kami bergerak melalui jalan-jalan kota yang relatif masih sepi. Gedung-gedung di sisi jalan yang tertata rapi dan bersih. Chris memandu perjalanan ini. Sepanjang jalan dia terus berkata dan menjelaskan semua yang kita lewati. Hebat juga dia. Nyetir sambil terus bercerita!

Jalan yang curam dan parkir menyamping

San Francisco penduduknya lebih dari 810 ribu orang. Luasnya kurang lebih 600 km persegi. Terletak di pantai barat Amerika dan di ujung peninsula San Francisco. Beberapa pulau : Alcatraz (inget Al Capone? Yang terkenal itu?), Treasure island, Yerba Buena island, Angle island termasuk ke dalamnya. Struktur atau kontur tanahnya mirip dengan Balikpapan. Berbukit-bukit dan dekat dengan laut. Banyak jalan-jalan yang menanjak dan bahkan ada yang cukup terjal. Pada bagian jalan ini, mobil bahkan diparkir menyamping! Bukan searah dengan arah jalur kendaraan. Karena kalau remnya blong, mobil itu pasti langsung meluncur ke bawah! Curam sekali.
Menurut catatan sejarah, pada tanggal 18 April 1906, suatu gempa besar meluluh-lantakkan ¾ kota San Francisco. 500 orang meninggal dan separuh lebih penduduknya kehilangan tempat tinggalnya. Tapi sekarang, San Fancisco menjadi salah satu dari 12 kota terpadat, dan PAD-nya termasuk 8 besar di Amerika.

GOLDEN GATE
Kira-kira 20 menit, kami memasuki wilayah jembatan Golden Gate. Chris memarkir busnya di parkiran mobil di sudut pinggir jembatan Golden Gate yang sangat terkenal itu. Ajaib, seakan nggak percaya sampai juga di sini. Jembatan yang dibangun April 1937 ini panjangnya 2,7 km, lebarnya 27 meter.

Golden Gate Bridge a landmark of San Francisco

Dan, di luar bayangan saya, ternyata bus ini tidak menyeberang jembatan Golden Gate. Hanya parkir! Dan Chris memberi kesempatan 30 menit di sini, sebelum nanti akan berjalan memutari kota lagi. Sudah sampai di sini, masa nggak nyeberang jembatan ini? Tanggung amat.
Di ujung jembatan semua orang sibuk berfoto. Di samping saya ada sepasang kekasih dari Jepang yang sibuk bergantian saling foto. Saya menawarkan untuk memotret mereka berdua. Dan mereka pun bergaya di depan jembatan Golden Gate. Mesra. Foto itu pasti sangat berkesan bagi mereka berdua. Saat yang istimewa, ketika dua sejoli di depan Golden Gate. Mudah-mudahan mereka terus berbahagia sesampai di negaranya.
Masih ada waktu 20 menit. Harus berusaha ke tengah jembatan. Akhirnya, saya setengah berlari menuju ke tiang pertama Golden Gate. Kapan lagi? Pulau Alcatraz di sebelah kanan jembatan, agak ke tengah, terpisah dari daratan 3-4 km. Nanti mudah-mudahan ada ferry yang ke sana. Lihat Penjara Alcatraz dan baca kisahnya Alcapone. Dengan nafas terengah dan megap-megap, sampai juga di tiang pertama. Angin keras sekali. Pegang kamera saja bergoyang. Wuiihh. Jembatan Golden Gate panjangnya 2,7 km, selesai dibangun pada bulan April 1937. Jembatan ini menggantung dan disangga dua kabel. Di dalam kabel itu, ada kawat yang saling melilit. Konon kalau dijumlah panjangnya 129 km. 3 kali keliling bumi! Wah.
Dari tiang pertama jembatan Golden Gate, angin bertiup keras. Mungkin benar kata Chris, jika angin keras jembatan ini bisa bergoyang sejauh 6 meter. Di sebelah kanan kota San Francisco dan gedung-gedungnya terlihat cantik. Lengkung pantainya artistik dan di depannya Pulau Alcatraz. Sayang tidak bisa lama-lama di sini. 10 menit lagi bus akan berangkat. Saya berlari kembali ke tempat parkir. Dan dengan terengah-engah penulis naik bis kembali. Pas waktunya.

SAN FRANCISCO DARI KETINGGIAN
Berikutnya Chris membawa kami ke bukit yang tertinggi di San Francisco. Dari sini pemandangan cantik sekali. San Francisco tampak abu-abu membiru. Kelompok gedung tinggi dan pantai yang kehijauan memberikan nuansa khusus.

The beauty of San Francisco from the above

Matahari cukup terang. Sayang angin bertiup cukup kencang, harus menutup kuping yang terasa, seperti diiris-iris. Seperempat jam Chris parkir di sini dan kami bergeser lagi ke tempat lain.
Kali ini melingkar melewati kota dan berhenti di pantai dengan deburan ombak yang besar. Kalau keindahannya banyak pantai kita yang lebih indah dari ini. Yang berbeda ada lapangan parkir yang luas, dan pantai bebas dari pedagang di pinggir pantai. Jadi pandangan ke pantai benar-benar lepas.
Bus kembali bergerak kali ini mengelilingi kota. Chris membawa kami ke wilayah dimana harga rumah sangat mahal. Yang hanya dapat dijangkau oleh kalangan the haves. Rumah-rumah jaman dahulu yang tetap dipertahankan keasliannya.
Kami sempat berhenti di San Francisco Pyramid. Gedung tertinggi berlantai 101, yang bentuknya mirip piramida. Konon di situ berkantor perusahaan yang bergerak di bidang Finance. Juga berhenti sejenak di bagian jalan yang begitu terjal. Pada jalan ini kendaraan diparkir menyilang jalan, bukan sejajar seperti kebanyakan di kota-kota besar.
Akhirnya Chris membawa kami kembali ke kantornya. Masih jam 2 siang. Ada kesempatan untuk melihat Alcatraz. Penjara yang sangat terkenal itu, yang pernah menyimpan penjahat kelas kakap Al Capone. Sayangnya, karena ombak besar, maka seluruh boat dan ferry yang ke pulau Alcatraz dibatalkan. Waduh. Sementara alternatif lain kurang menarik, karena terbatasnya waktu.
Saya keluar dan berjalan sepanjang trotoar jalan. Masuk ke toko souvenir dan membeli cinderamata seadanya. Masuk ke Burger King, makan siang sambil menyiasati untuk mengisi waktu sore hari ini. Keluar dari Burger King, saya melihat cable car parkir di pinggir jalan. Beberapa turis tampak sedang naik dan turun. Penulis mendekat, dan bertanya kepada drivernya, Bob. Dia bilang akan menyusuri Golden Gate dan menyeberanginya.
Wah pucuk dicinta ulam tiba! Penulis beli tiket di sebuah toko di pinggir jalan. Harganya $28. Dan akhirnya bersama Bob sebagai sopir dan pemandu wisatanya bus ini berjalan. Yang menarik, klakson bus ini masih menggunakan genta yang ditarik dengan tali. Suaranya khas dan menjadi tanda, dan suara genta ini seakan sebagai isyarat bagi mobil lain untuk memberi jalan, kepada bus pariwisata yang khas ini.
Bob seorang pemandu wisata yang handal. Badannya tinggi besar, tampak kuat. Seperti gambaran seorang bapak yang baik dan lucu dalam film-film Amerika. Dia menjelaskan semua hal tentang San Francisco dengan melucu, menyanyi dan membuat cerita yang menarik.

MENYEBERANG GOLDEN GATE
Dengan semangat dan penuh kegembiraan Bob membawa kembali kami ke jembatan Golden Gate dengan rute yang lain. Di sebuah lokasi yang indah dengan latar belakang Jembatan Golden gate, sepasang pengantin sedang menyiapkan foto pre wedding. Di sebuah bukit dimana Golden Gate tampak di bawah, Bob menghentikan busnya. Dan kami turun membuat foto yang spektakuler ini.

The cable car driver and me

Dan akhirnya kesampaian juga, niat menyeberangi jembatan Golden Gate. Bus berputar dan kembali lagi menyeberangi Golden Gate dari sisi yang lain. It was a wonderful trip.
Turun dari busnya Bob, sudah jam 6 sore. Penerbangan saya dengan Cathay Pacific ke Hongkong jam 1 malam. Masih beberapa jam untuk menikmati San Francisco. Berikutnya saya sengaja naik cable car-nya San Francisco. Bus yang rodanya terbuat dari besi dan berjalan di atas rel khusus di jalan raya. Duduk di dekat sopir. Tampak sopir hanya menggerakkan tuas ke depan untuk maju, dan ke belakang untuk berhenti. Konon cable car ini dibuat untuk mengurangi jumlah kecelakaan mobil di jalan. Dan sampai sekarang masih digunakan, dan dilestarikan untuk turis. Cable car menjadi salah satu daya tarik San Francisco.
Kira-kira 20 menit naik cable car ini. Cukup sudah. Harus segera sampai ke hotel untuk beristirahat sebentar dan packing. Jam 9 malam harus sudah ke airport. Jadi turun dari cable car dan berganti dengan taksi. 15 menit kemudian sampai di hotel. Setelah packing dan istirahat sebentar. Kemudian turun, check out dan pesan taksi ke bandara.

PULANG
Jam 09.30 malam sampai di airport. Dan ambil bagasi di locker. Billy menyambut dengan ramah. Please come back again, for next time sir. Saya segera check in dan ikut antri untuk security check. Sekalian ingin memperhatikan bagaimana Amerika memperlakukan penumpang yang akan keluar negaranya. Ternyata memang ketat sekali. Tas tentengan penulis dua kali dilewatkan kembali, melalui X-Ray. Tampaknya beberapa gantungan kunci yang mengandung logam, membuat petugas security membongkar tas tentengan. Dan mengeceknya dengan teliti.
Akhirnya, saya menunggu boarding di Gate A9. Jam 12.30 tengah malam flight CX 873 boarding. Pesawat penuh. Hampir jam 1 lewat tengah malam, jumbo jet Boeing B747-400 Cathay Pacific menjejak landasan. Masih 14 jam terbang, melintasi samudera Pasifik, menuju Hong Kong dan terus ke Bali.
Selamat tinggal San Francisco …
All across the nation / such a strange vibration / People in motion / There’s a whole generation / with a new explanation / People in motion people in motion

Cable Car San Fransisco

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share