Penerbangan
Home / Penerbangan / Selamat Datang di Perth

Selamat Datang di Perth

Perth kota di bagian barat Australia. Penduduknya hanya 1,5 juta orang. Letaknya jauh dari kota-kota lain di benua Australia. Kota yang terdekat Adelaide terpisah lebih dari 2.700 km. Graham Moss, CEO Tourism Council Western Australia percaya bahwa Perth adalah salah satu dari kota yang paling ramah di dunia.

Melihat lokasinya yang “terpencil” wajarlah jika bagi Perth, Bali dapat dikatakan tetangga terdekat. Kurang lebih sama dengan jaraknya dari Perth-Adelaide. Tetapi tampaknya untuk soal liburan, Bali menjadi pilihan yang lebih menarik, karena dekat dan murah. Jadi wajarlah jika penduduknya lebih suka ke Bali. Barangkali itu pulalah yang membuat Pak Jafrie dari Air Asia menemui penulis dan mengatakan bahwa mulai bulan Juni nanti akan ada tambahan satu flight lagi dari Bali ke Perth. Occupancy rate-nya rata-rata sudah 78%. Jadi mulai Juni nanti akan ada 3 flight dalam sehari dari Bali ke Perth. Dan Pak Jafri mengundang penulis untuk melihat kota Perth. Wah, pucuk dicinta ulam tiba.

Kamis, 1 April 2010 penulis duduk di seat 3B, pesawat Airbus A320. Pramugari Carolina yang berasal dari Tomohon-Manado mengucapkan selamat datang di penerbangan berbiaya rendah yang terbaik menurut Skytrack, berdasarkan survei dari 15 juta penumpang. Jam 13.05 Captain Rizky Tresna di cockpit mengangkat control stick, dan pesawat yang tampak masih baru ini pun lahir ke udara (airborne). Tinggal landas yang mulus. Pantai Jimbaran pun menjauh ke bawah. Sebuah siang dengan cuaca yang amat cerah.

 

PERTH INTERNATIONAL AIRPORT

Jam 04.10 sore hari Airbus A320 menjejak tanah, setelah terbang selama 03 jam 10 menit. Selamat datang di Perth. Ini kunjungan kedua penulis setelah lebih dari 10 tahun. Begitu keluar dari garbarata dan masuk ke terminal kedatangan, langsung kami “diterima” toko duty free. Jadi duty free shop tersedia sebelum penumpang masuk ke counter imigrasi dan Bea Cukai. Di Indonesia duty free di terminal kedatangan tidak boleh. Kok bisa beda ya?

Pemeriksaan passport agak sedikit berbeda dengan di negara lain. Di Perth sampul atau pelindung passport harus dibuka, padahal di Amerika pun tidak perlu dibuka. Ya sudah ikuti saja. Jadi perlu waktu untuk membuka sampul yang lengket karena sudah lama sekali tertempel. Memasuki pemeriksaan imigrasi semua barang masuk di X-Ray dan diawasi petugas. Semua beres dan kami keluar bandara. Di luar matahari terang tetapi suhu udara cukup sejuk.

Perth international airport luasnya 2.105 Hektar, 7 kali lebih besar dari Bandara Ngurah Rai-Bali. Memiliki 2 buah runway, runway utama 03/21 panjangnya 3.444 meter dan runway ke dua 06/24 panjangnya 2.163 meter. Perth adalah bandara keempat tersibuk di Australia, melayani penumpang sebanyak 9,7 juta per tahun, 75 % penumpang domestik dan 25% penumpang internasional. Yang cukup menggembirakan ternyata Bandara Ngurah Rai menduduki peringkat ke empat dari bandara yang paling banyak diterbangi dari Perth.

Piramida Sakkhara

Dua buah terminal domestik terletak berdekatan dan jaraknya hanya sekitar 12 km dari Perth Central Business District, sedangkan Terminal Internasional yang terletak berseberangan dengan terminal domestik lebih jauh, 17 km dari Perth CBD.

Terminal Internasional melayani penumpang yang melakukan penerbangan Trans Ocean ke Johanesburg, juga ke Dubai memiliki 7 gates dan 5 garbarata. Sedangkan Terminal Domestik terdiri dari 2 terminal. Terminal 2 yang digunakan khusus untuk Qantas dan Jetstar memiliki 4 garbarata dan 9 gates dan Terminal 3 merupakan Multi User Domestic Terminal, yang dulunya digunakan oleh Ansett, sekarang dipakai oleh Skywest, Virgin Blue, Ozjet, Alliance Airlines and Tiger Airways. Terminal ini memiliki 2 garbarata dan 7 gates. Sebuah General Aviation Terminal terletak di sebelah utara, digunakan untuk pesawat charter, terutama pesawat pertambangan ke daerah-daerah terpencil.

Sore hari kami check in di Hotel Ibis di 334 Murray Street, room 823. Robyn dan Ella resepsionis hotel yang ramah dan sangat membantu memberikan map Perth dan membantu menjelaskan places of interest. Mereka bilang sayangnya besok hari libur, Good Friday, maka banyak toko dan travel tour yang tidak beroperasi.

Dari buku panduan dapat dibaca, sejarah Perth dimulai pada bulan Maret 1827 Captain James Stirling dari angkatan laut Inggris tiba di Swan River. Beliau menemukan sebuah wilayah yang memiliki daya tarik alamiah. Setelah melaporkan ke pemerintah Inggris, dimulailah sebuah pemukiman Swan River yang pertama pada Juni 1829. Pagi harinya, Jumat, 2 April hari libur paskah, Good Friday. Bus Blue Cat yang melayani berkeliling kota Perth tanpa bayar, alias gratis, tidak beroperasi.

Ya sudah jalan kaki saja ke harbour, menyusuri jalan yang relatif masih sepi. Berjalan menyusuri trotoar jalan dan setelah melewati 5 blok, kami sampai di sebuah lapangan yang cukup luas. Lapangan luas dengan latar belakang gedung-gedung tinggi bertingkat menjadi landmark dari kota Perth. Di depan kami ada 2 bentuk bangunan yang cukup tinggi. Sebuah menara yang tinggi, The Bell Tower, tingginya 82.5 meter ini menyimpan 12 lonceng dari Trafalgar Square.

Bangunan lainnya adalah sebuah komidi putar Wheel of Excellence. Ada 36 cabin wheel excellence ini, isinya masing-masing cabin 6 orang. Cabin-cabin ini berputar ke atas 4 kali, sekitar 13 menit. Pemandangan dari atas sana pasti indah, karena bawahnya adalah harbour dan Swan River. Coba deh, ongkosnya dewasa $15 dan anak-anak $10.

Di tepi Swan river, penulis sempat melihat angsa yang berbulu hitam. Konon katanya siapa yang sempat melihat angsa berbulu hitam, akan mendapat beruntung. Mudah-mudahan. Seperti kalau anda ke Pura Suranadi dan di Lingsar di Lombok. Jika anda sempat melihat penampakan moa yang diberi makan telur itu, maka anda akan beruntung.

Saya menuju ke pelabuhan dan ada sebuah cruise ke Fremantle. Jadilah kami naik cruise ini River Cat biayanya $20 hanya 15 menit ke Fremantle. Captainnya seorang gadis, umurnya mungkin baru 20-an tahun. Tangan kanannya berada di 2 buah throttle mesin dan tangan kirinya mengendalikan kapal hanya dengan sebuah tongkat kecil seukuran ballpoint! Sambil mengendalikan kapal, dia terus menceriterakan situasi di kanan kiri kapalnya.

Di sebuah pemukiman yang berada di tepi sungai. dia menjelaskan bahwa tanah di situ harganya sampai $7300/M2. Mahal banget! Fremantle adalah muara Swan River ke laut lepas. Dulu Captain James Stirling memasuki Sungai ini dari Fremantle. Dan saya berusaha membayangkan hampir 200 tahun yang lalu, kira-kira bagaimana ya situasinya?

 

TERMINAL KEBERANGKATAN
Minggu pagi jam 2 dini hari, check out, flight kembali ke Bali jam 04.50. Cukup waktu. Tetapi ternyata kemeriahan malam Minggu dan besok Senin adalah Eastern Day, membuat taksi jadi jarang, semua penuh. Padahal sudah pesan taksi di dua perusahaan, tetapi sudah menunggu setengah jam, tak sebuah pun datang. Penulis ke luar di pinggir jalan dan mencoba menunggu taksi. Melihat penulis menunggu lama, seorang gadis mendekat dan menyarankan untuk mencari taksi 2 blok dari sini barangkali di sana lebih banyak taksi yang kosong. Wah, baik juga nona itu.

Menunggu hampir 10 menit dan akhirnya sebuah taksi menepi. Sopirnya seorang Irak bernama Matiah, isterinya seorang guru dan tinggal di Dubai. Dia sedang menyelesaikan pendidikan Master Degree-nya kurang 6 bulan lagi dan mencari tambahan uang untuk menunjang biayanya. Matiah banyak bercerita tentang Irak. Menurut dia Irak mulai berbenah dan memperbaiki semuanya.

Dengan emosi dia bercerita bahwa baik Sadam Husein maupun Osama bin Laden sebenarnya adalah orang-orangnya Amerika. Haa? Ngobrol panjang dengan Matiah membuat waktu tidak terasa, 30 menit kemudian kami tiba di Terminal Internasional. Langsung check in. Penumpang penuh. Ternyata Australia libur seminggu, pantas banyak keluarga yang pergi ke Bali bersama anak-anak mereka yang masih kecil-kecil.

Petugas check in seorang lelaki keturunan China lahir di Surabaya dan besar dan bekerja di Perth. Perth International Airport memiliki 39 check in counters. Barangkali karena bukan pada peak hours, maka proses penumpang berlangsung cepat dan efisien. Besok Eastern holiday, oleh sebab itu penumpang penuh, banyak keluarga yang akan berlibur ke Bali dengan anak-anaknya.

Melewati petugas Imigrasi, proses berlangsung mudah dan cepat. Setelah melalui X-Ray, sebelum diperiksa manual, petugas security mengucapkan beberapa pertanyaan setelah menunjukkan sebuah kertas berisi pertanyaan standar yang dilaminating dan tertulis dalam bahasa Inggris. Do you speak English? Dan dia menjalankan tugasnya memeriksa penumpang dan barang bawaannya. Selanjutnya kami menuju ke gate No 5, flight Air Asia QZ-8621 akan berangkat jam 04.50.

Sebentar kemudian di layar monitor tulisan boarding berwarna hjiau berkedip-kedip : QZ-8621 to Bali boarding. Penulis duduk di seat 22 A, di sebelah penulis seorang bule yang baru kali ini datang dan akan mengunjungi Bali. Penulis tertidur tidak merasakan pesawat take-off. Ketika terbangun, pramugari Novi dan Bunga, sedang mengedarkan makanan dan minuman bagi penumpang yang ingin membeli.

Kayaknya minum kopi enak juga nih. Di sebelah kanan dari balik jendela, matahari akan muncul dan semburat merah mewarnai langit. Warna merah membentuk garis yang artistik di cakrawala. Dan awan gemawan tampak putih bergumpal. Indah sekali.

 

WELCOME TO THE ISLAND OF PARADISE
Dua puluh menit menjelang mendarat Novi mengumumkan agar penumpang bersiap-siap. Pilot memberikan penjelasan yang cukup detil tentang segmen rute pesawat. Ketika pesawat mendekati saat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Captain Redianto menjelaskan akan mendarat dari landasan 27, dia menjelaskan rinci apa yang berada di sebelah kiri dan kanan pesawat.

Bagi Starvis bule yang duduk di sebelah penulis yang baru datang pertama kalinya di Indonesia, keterangan yang diucapkan oleh captain pesawat pasti sangat berguna untuk membayangkan Bali. Captain QZ-8621 Redianto Sunggawan beserta cabin crew Novi, Bunga, Fiona dan Flora merupakan gabungan crew yang secara langsung dapat mencerminkan dunia wisata di Indonesia.
Seyogyanya seluruh penerbang Indonesia meniru apa yang dilakukan oleh Captain Redianto, memasarkan Indonesia ke luar dan mengapresiasi keindahan negerinya sendiri.
Welcome to Bali … the island of paradise

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share