Perspektif
Home / Perspektif / Sego Pecel dan Logistik

Sego Pecel dan Logistik

Sudah lewat enam puluh tahun lebih, baru menyadari dengan sebenarnya apakah dibalik makna, bahwa hidup harus saling mengisi, menerima, memberi, membagikan dan menerima kembali. Rangkaian putaran itu kembali dan berlangsung seterusnya. Suatu rangkaian yang tidak pernah berhenti dan semakin membesar dan memberi manfaat lebih banyak, kepada siapa saja yang dilewati rangkaian itu. Kemudian setelah itu barulah seseorang dapat bersyukur dengan tulus dan sebenar-benarnya. Sungguh saya melangitkan rasa syukur yang tak berhingga kehadirat-NYA, atas karunia-NYA kesadaran yang semakin utuh tentang hal itu. 

Kesadaran itu semakin mengkristal, ketika diminta memberi mata kuliah Logistik dan Supply Chain Management. Semula tampak biasa saja, tetapi kemudian saya menyadari itu sungguh suatu rangkaian rantai (chain) yang luar biasa. Allah SWT menciptakan konsepnya. Kemudian semuanya mengalir, dan berlangsung seperti seakan-akan berjalan sendiri dengan otomatis.

Begini maksud saya. Marilah kita mencoba mencermati apa saja yang berlangsung di sekitar kita. Setiap kali berada disuatu ruangan atau dimana saja anda berada, cobalah anda perhatikan dengan baik-baik. Anda mesti melihat, memakai, mengkonsumsi dan menikmati sesuatu barang buatan manusia. Tidak ada satu barang dibuat oleh anda sendiri. Walaupun ketika di depan meja anda ada secangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng lezat, tidak satu pun yang benar-benar buatan anda sendiri! Ya kan?

Pada saat itulah selalu hadir realitas manajemen logistik. Kok bisa begitu? Sebelum menjadi produk akhir, suatu barang mesti telah melalui berbagai macam proses sebelum akhirnya barang itu hadir di depan anda. Tampak sederhana seperti itu. Tetapi jika dipikirkan kembali, itu tidak sesederhana seperti yang tampak. Marilah sebentar mencoba merenungkan hal itu.

Pada suatu saat misalnya kita berada di sebuah warung makan nasi pecel Mbah Min. Marilah kita mencoba membayangkan bagaimana proses terjadinya sepincuk sego pecel di warung Mbah Min ini. Dari sayurannya : ada kangkung, taoge, kacang panjang, kubis, kembang Turi, kentang dan lainnya. Semua sayuran itu ditanam oleh petani. 

Tanaman itu membutuhkan waktu tertentu sebelum di panen. Setelah panen lalu di angkut dan di bawa ke pasar. Lalu dibeli Mbah Min. Sayuran itu kemudian dibersihkan di rumah mbah Min, lalu direbus oleh Mbah Min. Itu baru sayurannya. 

Yang lain adalah telur dan kerupuk. Prosesnya panjang seperti diuraikan diatas tadi. Ada peternak yang memelihara ayam petelur. Setelah cukup waktu tertentu, ayam lalu bertelur. Telur dikumpulkan dibawa ke toko dan dijual. Di toko telur dibersihkan dan dipajang. Mbah Min membeli telur itu, lalu merebusnya di rumah. Setelah matang siap disajikan dengan sayuran yang sudah siap.

 Sekarang menyapkan bumbunya. Lebih banyak lagi yang dibutuhkan: kacang, garam, gula, cabai, vetsin dan lainnya. Sebelum menjadi bumbu yang luged dan miroso, prosesnya juga panjang. Anda dapat membayangkan sendiri. Jangan ketika sudah jadi bumbu, tetapi cobalah memikirkan sejak dari awal prosesnya. Ada petani garam, petani yang menanam kacang, cabai, kelapa dan sebagainya.

Piramida Sakkhara

 Akhirnya, Mbah Min lalu meramu semuanya menjadi sepincuk sego pecel yang sungguh nikmat dan nyamleng! Dan kita yang menunggu dengan tidak sabar, sekarang tinggal menikmatinya. Nasi pecel dengan segelas teh kental dan manis diiringi alunan musik Campur Sari. Top tenan!

Ternyata yang tampak  sederhana itu, mengandung makna sangat dalam. Semua yang anda nikmati itu adalah hasil kerja dari berbagai macam orang, dengan berbagai macam keahlian dan ketekunan. 

Tidak ada satu pun yang dihasilkan oleh anda sendiri. Anda memang membeli dengan uang sendiri, tetapi sebuah produk adalah hasil kolaborasi dari bermacam keahlian, sebelum menjadi produk akhir yang anda nikmati. 

Itu baru proses pembuatannya. Jika direnungkan semakin mendalam, mereka semua dapat bekerja, sebab mereka sehat dan juga karena hidup. Sang Pemberi Hidup lah yang membuat mereka semua dapat bekerja dan menghasilkan sesuatu. 

Jadi? Ketika sedang menikmati sesuatu, rasanya perlu mengingat sekilas proses terjadinya, bagaimana suatu makanan itu berada di hadapan anda dan dapat anda nikmati. Begitu banyak orang terlibat sebelum anda menikmati. 

Marilah sejenak bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup yang telah memungkinkan semuanya terjadi. Dan secara tidak langsung membuat sesuatu itu berada di hadapan kita dan dapat kita nikmati dengan semua panca indera kita yang masih bekerja dengan baik. Alhamdulillah …

Allahu Akbar …

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share