Oleh : Maskon Humawan Budiarso
Ngabuburit? Jalan.
Buka bersama? Hadir.
Taraweh? Lumayan rajin.
Posting religius? Jangan tanya.
Secara administrasi Ramadhan, saya ini kelihatan aman.
Tapi ada satu masalah kecil yang mulai mengganggu.
Kok setelah puluhan tahun puasa…
saya masih gampang merasa paling benar?
Postingan medsos masih bisa bikin emosi.
Perbedaan pendapat masih terasa pribadi.
Dan — ini yang agak memalukan —
saya masih suka terlihat religius… selama kameranya bagus.
Di titik ini saya mulai curiga.
Jangan-jangan selama ini
yang benar-benar puasa itu cuma perut saya.
Ego saya?
Masih buka warung 24 jam.
Belakangan saya mulai paham pelan-pelan.
Menahan lapar dan haus itu penting — sangat penting.
Tapi mungkin itu baru gerbang depan.
Level berikutnya ternyata lebih sunyi… dan lebih mahal.
Menahan komentar pedas.
Menahan keinginan mengoreksi semua orang.
Menahan rasa ingin selalu terlihat benar.
Bahkan menahan dorongan untuk merasa sudah sampai.
Di sini ego mulai ikut puasa.
Dan jujur saja —
bagian ini yang paling sering saya gagal.
Mungkin memang puasa bukan sekadar ritual tahunan.
Mungkin ini perjalanan yang diam-diam menguliti kita pelan-pelan.
Saya belum sampai mana-mana. Jelas.
Tapi kalau Ramadhan masih datang lagi tahun ini,
mungkin itu bukan pengulangan.
Mungkin itu undangan yang belum selesai.
Pelan-pelan saja.
MHB : 22 Feb 2026

