Dunia sedang menjadi saksi Donald Trump & Netanyahu yang dengan seenak perutnya sendiri menyerang negara berdaulat. Setelah Venezuela, dia mungkin merasa mudah juga untuk menyerang Iran. Di Venezuela, Donald Trump menculik Presiden Maduro dan istrinya.
Dan sekarang di Iran, dia membunuh pemimpinnya, Ayatullah Ali Khameini. Alasannya dibuat-buat, hanya sekedar untuk melegalkan serangannya itu.
Padahal DT itu bossnya Board of Peace (BoP). Jadi “peace” nya ada dimana? Sama sekali jauh panggang dari api. Jaka Sembung pakai golok. Nggak nyambung, gob…!
Terus Indonesia yang ikut BoP, jadi bingung mau bersikap bagaimana? Indonesia dikenal negara non-Blok. Dan sejak awal berdirinya, berjuang untuk menghapuskan penjajahan di atas bumi.
Tapi kali menyaksikan AS-Israel menyerang Iran, Indonesia tampak ragu. Nggak yakin harus bersikap bagaimana?
Dan banyak pihak menyayangkan, mengapa Indonesia jadi seperti bersikap ambigu. Indonesia tidak ikut mengucapkan berdukacita, atas wafatnya Ayatullah Ali Khameini. Iran mayoritas penduduknya muslim. Walaupun beda aliran kita Sunni. Iran Syi’ah.
Mungkin Presiden RI merasa tidak enak kepada Trump, karena Indonesia sudah masuk ke kelompok BoD, dimana Donald Trump jadi bossnya. Atau barangkali juga, karena takut sama Amerika. Lho, takut apa? Takut perjanjian perdagangan dengan AS dibatalkan? Malah kebetulan, kan? Berarti lepas dari kewajiban perdagangan yang mengikat. Dan dinilai para pengamat merugikan Indonesia.
Perang AS-ISRAEL dengan Iran semakin seru. Kali ini AS-Israel kecele. Mereka pikir, Iran mudah tunduk, setelah pemimpinnya terbunuh. Ternyata Iran melawan dengan gigih dan canggih.
Dan, balasannya sungguh tidak terduga. System pertahanan Israel, Iron dome, Arrow-3, David Sling, kuwalahan. Menghadapi hujan serangan drone dan rudal Iran. Rudal Fattah-2 dan Kheibar Shekan, mampu menjebol pertahanan udara Istael. Iran melancarkan 1.800 serangan rudal dalam waktu 4 hari.
Iran juga melancarkan serangan rudal ke pangkalan Amerika di negara-negara Timur Tengah, Qatar, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Yordania, UEA. Serangan itu membuat negara-negara mulai merasa bahwa keberadaan pangkalan AS, justru membahayakan mereka.
Republik Islam Iran membuktikan bahwa ancaman mereka bukan sekadar gertakan kosong. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa Mayor Jenderal Tomer Bar panglima tertinggi yang bertanggung jawab atas supremasi udara Israel telah tewas dalam sebuah operasi balasan Iran.
Tomer Bar baru saja membanggakan keberhasilan Operation Roaring Lion atas Iran beberapa hari lalu, kini menjadi korban dari mesin perang yang ia coba hancurkan. Ironisnya sang arsitek serangan udara Israel ini tewas saat Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone yang menembus sistem pertahanan paling canggih di dunia. Kematiannya menandakan runtuhnya mitos “tak terkalahkan” yang selama ini disandang oleh IDF.
Ini adalah tamparan keras bagi Mossad dan unit intelijen Israel. Pada saat mereka merayakan kematian Ali Khameini, Iran justru berhasil menyusup ke jantung komando militer Israel. Ini membuktikan bahwa strategi serangan preemptive Israel justru membuka celah fatal yang tidak pernah mereka antisipasi.
Dengan tewasnya tokoh kunci militer di kedua belah, pihak Khameini di pihak Iran dan Tomer Bar di pihak Israel, pintu negosiasi kini terkunci rapat dan kuncinya telah dibuang. Dunia kini hanya bisa menonton, saat dua kekuatan besar ini menyeret kemanusiaan ke dalam jurang perang yang mungkin tak akan menyisakan pemenang.
Akhirnya, kembali ke Indonesia, kita jadi prihatin ketika kita tidak bersikap apa-apa dalam pertunjukkan arogansi negara besar yang dengan semena-mena menyerang negara lain dengan alasan yang dibuat-buat sendiri. Apalagi sampai membunuh seorang pemimpin negara yang berdaulat. Ini sungguh memprihatinkan. Dan kita bimbang dan ragu, untuk menyatakan sikap kita, di tengah arogansi negara adikuasa, padahal kita adalah dulunya pemimpin negara non blok.

