Hari pertama di Vancouver. Tubuh belum juga menyesuaikan diri. Jam 8 pagi, biasanya masih tengah malam di Bali. Ngantuk. Hari ini kami baru akan melakukan regsitrasi untuk mengikuti 125th IATA Schedules Conference dari tgl 19 – 22 November di Hotel Westin Bayshores.
Setelah sarapan pagi kami berenam : Tenten, Wieta (Garuda), Yuni, Ervinna(DJU), Ahdi (AP2), dan penulis menuju ke lokasi konferensi di Hotel Westin Bayshore. Jalan kaki dari Listel Hotel tempat kami menginap. Kami mendaftarkan diri. Masing-masing mendapat sebuah tas dengan nama peserta. Semua peserta harus menggunakan badge namanya masing-masing, jika masuk ke lokasi, jika tidak akan ditolak. Tempat pelaksanaan tampak belum siap, masih diadakan persiapan di sana-sini. Di luar ruang utama, terletak banyak booth bandara-bandara terkenal di dunia yang memajang dirinya : Dallas Forworth, Arlanda-Stockholm, Aeroporti de Roma, dan beberapa airport dunia lainnya.
Setelah itu, kami sengaja mampir di Konsul Indonesia di Vancouver. Maksudnya mau lapor dan minta cap Konsul untuk kenang-kenangan saja. Menurut kabar ada 500-an orang Indonesia yang tinggal di Vancouver. Di depan loket seorang lelaki setengah baya, melayani kami. Ternyata dia minta kami mengisi formulir, pasfoto dan fotocopy paspor kami. Wah, ribet. Nggak jadi saja! Balik kanan dan ngeloyor pergi. Mendingan jalan-jalan daripada repot hehehe …
Angin mulai berhembus. Dingin di telinga yang tidak tahan. Juga tangan menjadi kebas, menyentuh shutter release kamera digital pun menjadi sedikit susah. Terpaksa mampir di tokonya Karim seorang Afghanistan yang sudah puluhan tahun tinggal di Vancouver. Beli sarung tangan! Harganya $24 sepasang.
Harga-harga di Vancouver tidak termasuk pajak. Kalau anda membeli barang, mereka akan tambahkan pajak 10% dari harga barang yang anda beli. Jadi harus bayar $27. Mahal ya? Karim mengingatkan sore hari nanti akan hujan, dia sarankan agar kami membeli payung juga. Tapi kami tidak mau.
Kami jalan saja. Melihat-lihat Vancouver. Di luar dingin, dan hujan mulai turun. Ternyata Karim benar, harusnya beli payung tadi. Terpaksa kami menggunakan teknik keluar-masuk toko. Karena di dalam toko ada pemanasnya, jadi hangat. Jika mulai dingin dan nggak tahan, masuk toko, pura-pura mau beli … kalau sudah hangat jalan lagi. Gitu deh.
Setelah capek, ada pilihan lain : naik bus umum. Belum tau jalannya pokoknya naik saja dah. Di depan, ketika kami menyodorkan uang kertas, sopirnya bilang : only for small change, it’s OK! Jadi, nggak usah bayar! Wah, kalau di Jakarta, bisa bangkrut perusahaannya neh.
Setelah lelah seharian jalan di tengah hujan dan dingin, kami makan malam di restoran HON di jalan Boston. HON adalah singkatan House of Noodles. Nasi goreng dan ikan bumbu menjadi santapan yang lezat. Ketika selesai sebagai penutup, masing-masing kami diberi sebuah kue kering yang berongga di dalamnya. Dan ternyata di dalamnya ada sebuah kertas dengan pesan tertulis tinta merah.
Tulisan pada kue penulis berbunyi: Keep a “go-for-it” attitude, and you are sure to be a winner. Wah, fortune teller nih. Mudah-mudahan saja ini berlaku.
Hari kedua di Vancouver. Acara 125th IATA Schedules Conference dimulai jam 08.00. setelah sarapan pagi, kami bergegas ke lokasi acara Westin Bayshore Hotel. Pak Tenten sudah jalan duluan, dan ketika kami datang Wieta juga sudah siap di mejanya di ruangan utama konferensi.
Maksud dari konferensi ini adalah : “to provide a forum for the allocation of slots at coordinated airports and for the reaching of consensus on the schedule adjustments necessary to conform to airport capacity limitations at schedules facilitated airports”.
Pagi itu, merupakan pertemuan seluruh praktisi aviasi dari seluruh dunia. Hampir seluruh airline di dunia hadir pada acara ini. Juga bandara-bandara terkemuka di dunia. Mereka saling meminta dan menawarkan slot time dari masing-masing bandaranya. Anehnya, penentuan slot time jarang melibatkan bandara.
Semestinya ada sebuah komite yang anggotanya terdiri dari airline (flag carrier) dan pengelola bandara. Secara bersama-sama mereka akan menentukan waktu yang tepat, untuk datang dan berangkat dari suatu bandara. Malaysia katanya akan menerapkan komite ini tahun depan. Indonesia belum juga mulai. Selayaknya mulai dipikirkan bersama antara airline dan pengelola bandara, mulai sekarang.
Bersama Pak Tenten, saya sempat bertemu coordinator slot time untuk Beijing dan Shanghai. Kami meminta slot time baru untuk penerbangan Garuda, karena adanya perubahan jenis pesawat dan waktunya. Exchange data ini dilakukan melalu program APAL (application airline), yang disiap–kan oleh IATA. Melalui program itu, semua airline dapat mengkomunikasikan keinginannya dengan Slot Coordinator dari masing-masing Negara.
Di luar ruangan konferensi, puluhan bandara di dunia memajang produknya. Setelah diamati, kebanyakan mereka menyatakan sedang merenovasi bandaranya. Membuat runway baru dan terminal baru untuk memudahkan pergerakan penumpang dan cargo di bandara mereka. Memperhatikan dan melihat brosur, booklet, penjelasan mereka, membuat sedikit agak minder juga! Mereka sangat professional dan didukung dana yang sangat kuat.
Selain bandara, juga penyedia jasa pelayanan sistem bandara, menjajakan keunggulan masing-masing. Salah satu diantaranya DME (Dedication Merit Excellence) dalam salah satu tagline-nya menyatakan : the busiest man finds the most leisure. Orang yang paling sibuk, justru menemukan kesenangan terbaik. Wuahh. Sangat inspiratif dan menantang!
Sore hari setelah selesai mengikuti acara di Westin, saya menyempatkan diri untuk memanfaatkan waktu. Melihat lebih lengkap kota Vancouver. Kami memilih naik Vancouver Trolley Bus, Hop-On-Hop-Off. Biayanya $30/hari, tetapi jika dua hari hanya $37. Kami memilih yang dua hari. Jika naik bus ini, kita bisa naik dan turun di sepanjang rute yang dilaluinya, dengan hanya sekali membayar. Sopirnya dari Bangladesh. Namanya Babu. Dia cukup lucu dan tampak baik hati.
Jadilah sepanjang jalan, dia menyetir sambil bercerita. Sayang hujan cukup deras. Maunya turun dan naik di beberapa tempat yang eksotis. Di Brockton Point, kami memaksa turun untuk mengambil foto. Suhu sangat dingin. Tanpa kaos tangan, jari-jari terasa beku. Membayangkan jika terkena frost-bite di gunung bersalju. Wwuiihhh.

Vancouver Trolly
Jembatan Lions Gate Bridge yang katanya mirip dengan Golden Gate di San Fransisco hanya tampak sayup-sayup. Pandangan tertutup hujan dan kabut. Sayang sekali. Pada waktu cuaca cerah, pasti indah sekali. Terus kami memasuki hutan yang dibiarkan tetap seperti awalnya. Babu memberhentikan busnya sebentar, di sisi sebuah pohon yang berusia 800 tahun.
Di Prospect Point, kami berhenti sebentar. Hujan masih turun. Di sini kita dapat melihat Lions Gate Bridge dengan lebih dekat. Sayang hujan membuat keindahannya menjadi redup. Berikutnya kami melalui English Bay. Dalam cuaca yang dingin dan membekukan rasa ini, penulis membayangkan bagaimana dulu Kapten George Vancouver mengadakan eksplorasi, di wilayah yang belum dikenalnya. Dia pasti seorang yang luar biasa!
Akhirnya kami berhenti dan turun, di tempat semula kami naik. Babu bertanya : what is Indonesian words for : I Love You? Ternyata dia cepat belajar dan fasih mengucapkannya dengan benar. Ketika kembali ditanya dalam bahasa Bangladesh apa? Dia bilang : Ami Tumake Halowasi! But make sure you don’t say it to girls, or she will angry with you!
Masak iya sih? Dan memang nggak sempat mempraktekkan kalimat itu, wong nggak ketemu gadis Bangladesh hehe …

Prospect Point dari sini Lion’s Gate Bridge tampak anggun

