Spiritual
Home / Spiritual / Hidup Seperti Aliran Sungai

Hidup Seperti Aliran Sungai

Pengajian Nurul Ilmi Masjid Blangkon Al-Fath pada Ahad Wage tanggal 14 Maret 2021, yang memberikan pengajian adalah KH. Syatori Abdurra’uf Al-Hafidz Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswi Darush Sholihat Yogyakarta.

Beliau mengawali pengajian dengan metafora menggambarkan sebuah sungai. Sungai ternyata banyak memberi pelajaran. Dengan santun dan kalimat dengan bahasa yang tertata baik, beliau menggambarkan bahwa sungai adalah bagaikan kehidupan kita yang sesungguhnya. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dan diperoleh dari keberadaan sebuah sungai.

Yang pertama bahwa tidak ada sungai yang lurus, selalu banyak lekuk, lika-liku dan berbelok-belok. Yang lurus adalah selokan, buatan manusia. Sungai selalu penuh dengan lika-liku. Itulah hidup dalam arti sesungguhnya. Yang membuat lika-liku adalah Allah. Manusia hanya menjalani saja. Insya Allah jika dijalani dengan istiqamah akan membawa berkah. 

Seperti firman Allah dalam Surat At-Taubah 51 :

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”

Bagi manusia, ketentuan Allah itu wujudnya ada dua yaitu, kesenangan dan kesusahan. Dan dua hal itu kesenangan dan kesusahan, selalu datang bergantian. Logikanya jika sedang senang, berarti setelah itu akan susah. Jika sekarang sedang susah, suatu saat nanti akan mendapat kesenangan. Jadi seyogyanya hidup ini dijalani saja, dengan tawakal dan istiqamah. Manusia bagaikan air yang mengalir di sungai, menjalankan perintah Allah. 

Lika liku itu adalah takdir Allah. Jika air itu diam tidak mau mengalir, maka akan menjadi kotor dan berbau. Menjadi sumber berbagai penyakit. Air yang mau menjalani lika-liku, suatu saat akan sampai di muara. Sampai laut. Tidak lagi berada di sungai yang sempit, tetapi berada di samudera yang luas. Air sungai akan menjadi bagian dari gelombang yang indah. Juga air yang dari berbagai macam sungai itu, —ketika sampai ke laut— akhirnya hilang jati dirinya dan egonya masing-masing. Semua menjadi sama, sebagai air laut. Dan rasanya asin! Begitulah air yang mau menjalani fitrahnya dan perintah-NYA.

Air sungai ketika memulai hidup ketika berada di hulu, pada saat keluar dari mata air, kondisinya bersih, bening, jernih dan sejuk. Begitu sampai di tengah air sungai menjadi kotor. Sebuah sungai sebenarnya menunjukkan kualitas hidup dan kepribadian hidup. Sungai juga menunjukkan kualitas masyarakat, bangsa dan juga cerminan surga. Al-Quran menggambarkan surga dengan sungai-sungai yang mengalir dibawahnya.

Piramida Sakkhara

Masyarakat yang memiliki kesadaran, berbudaya bersih, akan membuat air sungai bersih. Sebab sejak keluar dari mata air, sebenarnya air itu bersih. Jika air sungai tercemar. Siapa yang mencemari sungai? Manusia juga. Disinilah diperlukan kebijakan dan ketegasan negara. Perlu tindakan tegas, agar tidak ada pabrik yang limbahnya mencemari sungai. Sikap tegas itu akan membuat sungai bersih, banyak ikannya dan nyaman untuk dinikmati. Di Jepang di tengah kota metropolitan yang sibuk dan crowded, sungainya bening, bersih dan banyak ikannya. Sungai itu bisa menjadi tujuan wisata, asal bersih. 

Bagaimana usaha untuk menjaga atau memperoleh kebeningan dan kejernihan? Harus selalu diawali dengan  Bismillahhir rahman nir rohim. Kalimat ini mudah diucapkan, tetapi belum sepenuhnya terwujud dalam perilaku. Tanpa menyebut nama Allah, maka akan terputus dan tidak mendapat barokah dari Allah. Seperti air di mata air, semuanya mesti diawali dengan kebeningan. Adapun caranya ada dua, yaitu : 

Yang pertama, ucapan Bismillah berarti mengatas-namakan Allah. Contohnya, jika ada seorang Camat memberi sambutan atas nama Bupati, berarti yang diucapkan adalah dari Bupati. Bukan kemauan si Camat sendiri. 

Jadi jika mengatas-namakan Allah, apa yang dikerjakan harus sesuai dengan keinginan dan kehendak Allah. Jika marah juga harus karena Allah. Misalnya, marah kepada anak. Sudah jam 2 siang belum pulang dan belum shalat. Harus marah. Hanya saja marah atas nama Allah, harus dibatasi. Marahnya dibatasi maksimal 1/2 menit. Tujuannya yang penting membuat anak sadar. Bukan memuaskan emosi dan rasa amarah saja. Marah harus membuat yang dimarahi, berubah menjadi lebih baik. 

Kemudian berikutnya adalah meng-agungkan Allah. Setelah sudah menyebut nama Allah, berikutnya mengagungkan Allah. Misalnya, ketika seseorang memperkenalkan Kopral Jono dan Jenderal Budi. Sudah tentu sikap kita terhadap dua orang itu berbeda. Sikap kepada Jenderal mesti lebih hormat, daripada kepada Kopral. Mengapa? Sebab kita tahu artinya. Yang tidak tahu dan tidak faham, ya akan bersikap biasa saja. 

Begitu juga kepada Allah. Banyak yang tidak tahu makna dibalik nama Allah. Mereka yang tidak tahu ketika menyebut nama Allah, ya merasa biasa-biasa saja. Bagi yang tahu, jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar (QS. Al-Anfaal:2). Dalam rangka mengagungkan Allah, cobalah memeriksa diri sendiri. Ketika membeli baju untuk anak, apa tujuannya? Apakah agar anaknya tidak minder ketika bergaul dengan teman-temannya? Agar anak memiliki rasa percaya diri untuk bergaul? Ibu-ibu memasak untuk apa? Jika suami sudah makan diluar padahal sudah capek masak, bagaimana sikap ibu-ibu? Jadi ketika memasak sebabnya apa? Apakah hanya agar dihargai suami? 

Ketika melakukan sesuatu, mestilah diiringi ta’dhim kesungguhan dan sepenuh hati kepada Allah. Dan hal tersebut mesti didasari oleh beberapa kondisi dan situasi yang mendukung terkabulnya tujuan, antara lain :

  • Melakukannya karena Allah suka. Misalnya : ada suami yang baik dan tidak baik. Suami yang tidak baik, membuat isteri melakukan sesuatu yang lebih baik, sehingga sang isteri mendapat rakhmat Allah. Pada kondisi itu suami yang tidak baik, seperti calo bagi isterinya. Memungkinkan isterinya masuk surga, tetapi si suami tidak terbawa masuk ke surga. Jadi pilih mana? Suami yang baik atau yang tidak baik? Jalani saja.
  • Dengan cara yang paling disukai Allah. Misalnya : menjalankan shalat berjamaah. Tidak hanya shalat sendirian, di rumah saja.
  • Melakukannya dengan hati senang. Misalnya membaca Al-Quran mesti didasari oleh rasa senang. Bukan karena terpaksa, sebab harus membaca bacaan yang panjang dan dalam waktu lama.
  • Melakukan semata-mata agar mendapat rahmat Allah. 

Yang kedua, Ar rahman ar rahim. Setelah rahmat Allah, ar rahman artinya berkah. Dalam bentuk apa pun, sebenarnya di dalamnya ada rahmat Allah. Misalnya ada yang ditakdirkan kaya dan ada yang miskin. Jika dihina orang, sebenarnya mereka yang dihina mendapat pahala. Yang menghina berarti memberi pahalanya, kepada yang dihina. Tidak perlu sakit hati. Sebab misalnya yang dihina hidung, mengapa kok hatinya yang sakit?

Ar rahim berarti semua kebaikan, akan berbuah kebaikan juga. Seperti air kebeningan. Memberi manfaat untuk diminum, menyegarkan dan menjadi sarana pembersihan segala hal yang kotor. Ibarat sungai dari pembahasan diatas, laut adalah muara semuanya. Laut adalah wujud dari ar rahman ar rahim.

Demikianlah pengajian hari Ahad Wage yang bertepatan dengan Hari Nyepi umat Hindu. KH. Syatori Abdurra’uf Al-Hafids menyampaikan dengan kalimat-kalimat sederhana, santun dan tidak banyak retorika. Namun menyimpan makna yang mendalam. Hal-hal yang tampak biasa, yang kadang kita merasa sudah tahu, ternyata menggugah untuk merenungkan-nya kembali. Beliau dengan santun mampu membalikkan. Kemudian menimbulkan pertanyaan untuk direnungkan. Apakah kita sebenarnya sudah tahu? Apakah kita sudah melakukan itu dengan benar? Apakah kita konsisten melakukannya?

Akhirnya, semoga pengajian rutin Masjid Blangkon Al-Fath akan semakin mempertajam dan mengasah spiritual kita. 

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share