Raga dan ruh adalah dua bagian yang menyatu-padu dalam sosok seorang manusia. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Raga sebagai wadah dan ruh yang berkeinginan dan menggerakkan raga. Ketika muda dahulu, raga lebih dominan. Masa muda masa mencoba segalanya dengan kemampuan raga yang kuat dan perkasa. Kadangkala atau justru seringkali begitu dominan, manusia sampai lupa untuk menengok ke dalam dimana ruh bersemayam. Padahal ruh lah yang berkuasa penuh atas raga. Dan ruh bernilai sangat mulia, bahkan tidak ternilai harganya. Jika ruh keluar dari raga, maka selesailah sudah kehidupan di alam fana ini.
Aa Gymnastiar dengan cermat menggambarkan hubungan ini dengan metafora yang sangat jelas sekali. Jika raga diibaratkan sebagai botol, maka ruh adalah isinya. Dan harga botol itu tergantung dari isinya. Jika isinya air mineral, harganya akan berbeda jika isinya jus, beda pula jika isinya madu Sumbawa, dan akan sangat berbeda jauh harganya jika isinya parfum.
Jadi harga botol tergantung dari isi yang terkandung di dalamnya, bukan dari bentuk dan penampilan botol. Kalau mau membeli sesuatu, yang disebut juga bukan botolnya tetapi isinya. Di toko jika anda mau membeli madu, yang disebut adalah isinya yaitu madu, bukan botol madu. Begitu kan?
Walaupun begitu dan sudah tahu begitu, sayangnya manusia lebih suka menjaga, memoles dan memamerkan botol daripada isinya. Aa Gymnastiar malah mengatakan dengan jelas bahwa para wanita lebih suka menjaga mati-matian dengan segala biaya, untuk memoles botol daripada memperbaiki isinya.
Juga para pemimpin sibuk menampilkan botol yang mewah. Mereka kurang atau bahkan tidak begitu peduli dengan isinya. Padahal botol boleh saja tampak mewah, tapi percuma saja kalau isinya tidak berharga!
Barangkali perlu merenungkan kembali: Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian (HR. Muslim)
Tetapi begitulah manusia. Sudah tahu, tetapi masih juga selalu terlambat melakukan apa yang sudah dia ketahui itu. Untunglah ada pepatah mengatakan : lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Begitulah …. Kebanyakan kita semua ketika muda dulu, diakui atau pun tidak; manusia lebih berusaha menjaga tampilan luar. Berusaha tampil dan berpakaian sedemikian rupa sehingga tampak profesional, rapi, necis, eksekutif dan berkelas. Pakaian, sepatu, jam tangan, perhiasan, asesori menjadi bagian yang tidak terlewatkan untuk menjaga penampilan. Pokoknya wah deh. Biar kalah nasi asal tidak kalah aksi.
Begitu bergemuruh apa yang tampak di luar. Kebutuhan raga terus menjadi nomor satu. Raga begitu mendominasi. Ketika masih berusia muda, manusia jarang memberi kesempatan kepada ruh untuk urun rembug dalam melakukan sesuatu.
Jika pun ruh memberi peringatan dan membersitkan sesuatu dalam bentuk intuisi, manusia tetap lebih mendengar apa yang diminta si raga. Dia tidak terlalu begitu peduli dengan ruh. Malahan cenderung mengacuhkannya.
Sekarang menjelang tua eh maksudnya sudah tua. Ketika lebih banyak waktu hening dan mendengarkan suara hati nurani. Ruh membelai dengan halus hati nurani dan perlahan menyingkirkan pengaruh raga. Ruh bersinar lembut dan menerangi naungan dari kegelapan si raga. Lalu perlahan-lahan sang ruh membuka kesadaran, menyinari kegelapan dan mulai berbisik perlahan, lalu mengingatkan.
Ketika hening, suara hati yang semula lirih, mulai jelas terdengar. Suara ini membimbing untuk bertanya, mengklarifikasi, merenungi, mencari, mendekat ke Illahi Rabbi. Lalu jauh di dalam, suara yang lembut sayup-sayup mulai menggema dan lama kelamaan semakin keras dan menjadi bergemuruh.
Aku tersentak, lalu menundukkan kepala dalam-dalam. Tanpa terasa air mata menggelayut di pelupuk mata. Di relung sudut yang dalam bisikan lembut suara itu seakan menuduhku dengan tajam dan telak : “Mengapa baru sekarang, engkau serius mendekati-KU?” Aku terdiam. Membatin dalam hati. Mohon ampun. Lalu suara lembut itu berubah menjadi bergemuruh. Aku menjadi semakin tertunduk, semakin dalam. Astaghfirullah …
Dengan rendah hati berharap dengan sangat Allah SWT mendengar dan mempedulikan bisikan hati nurani, seperti firman-NYA, dalam Hadis Qudsi :
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya (baca: perkumpulan malaikat). Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil.
(HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi).
Di setiap keheningan ketika kebutuhan raga terpinggirkan, suara itu kembali muncul. Semula hanya lirih sayup-sayup, lalu menjadi jelas, semakin jelas dan kemudian menjadi bergemuruh. Gemuruh dalam keheningan.
Dalam dzikir yang hening dan bening, suara itu pelan-pelan begitu halus tetapi mampu mengayunkan tubuh, semula perlahan lalu semakin cepat dan semakin cepat …
La ila ha ilallah …

