Perspektif
Home / Perspektif / Belajar Memahami Hal Baru

Belajar Memahami Hal Baru

Sudah semakin tua, belajar agama jangan hanya berlatih membaca Al Qur’an saja. Yang lebih penting lagi selain mengerti artinya, juga mencari apa sesungguhnya makna yang terkandung di dalamnya. Bahasa Arab dalam Al Qur’an adalah bahasa langit. Bahasa yang bermakna plastis, sesuai kualitas dari orang yang membaca dan memahaminya. Tidak bermakna baku seperti yang tertulis. 

Oleh sebab itu seringkali Allah mengingatkan agar orang selalu membaca dan berpikir tentang segala sesuatu. 

Allah SWT berfirman dalam (QS Ali-Imraan : 65) :

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah dia (Ibrahim)? Apakah kamu tidak berpikir? 

Pemahaman kita sudah jauh berbeda dengan ketika kecil dahulu, jadi semua pemahaman tentang sesuatu ketika kecil dulu, mesti sudah berubah ketika sudah tua. Kalau masih sama, berarti ada yang salah dalam memahami sesuatu. Pasti ada perubahan, mesti ada pemahaman baru yang lebih mendalam dan komprehensif, dibandingkan waktu kecil dulu.

Kita tidak mungkin belajar sendiri. Tidak mungkin hanya dengan otodidak saja. Kita pasti membutuhkan seseorang yang dapat menjadi penuntun, yang ahli dan mumpuni, yang mampu membuka wawasan kita menjadi terbuka menjadi semakin luas. Dengan bantuan mereka para guru, ustadz dan aulia. Mereka lah yang akan menuntun kita untuk mengintip cakrawala spiritual, yang sedemikian luas tanpa batas dan sangat di luar yang kita dapat bayangkan. 

Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam memilih ustadz dan pembimbing spiritual. Pemahaman, kepribadian, kualitas kemampuannya bakal menjadi tolok ukur sampai dimana kita dapat menerima apa yang dikatakannya. Jadi teringat kata-kata Gus Mus pada suatu ceramahnya. Beliau mengingatkan kepada para ustadz, agar terus meningkatkan kemampuannya. Para ustadz bukan hanya harus pandai membaca dan hafal Al Qur’an saja, tetapi yang lebih penting lagi adalah pemahamannya. Hati-hatilah kepada guru yang tidak pernah meng-upgrade dirinya. 

Pemahamannya akan mentok, berhenti dan mandeg tanpa ada peningkatan atau adanya pemahaman baru berdasarkan daya kritis dan berpikirnya. Tanpa mengecilkan arti dan kemampuan, jika seorang guru hanya lulusan Tsanawiyah misalnya, pasti kesulitan menjelaskan hal-hal kritis yang ditanyakan. Dan itu akan membentuk pengertian dan pemahaman murid-muridnya.

Piramida Sakkhara

 

PEMAHAMAN BARU

Usaha untuk memahami sesuatu hal yang baru, selalu diperoleh melalui akal, pikiran, persepi dan bahkan imajinasi. Setelah menerima hal yang baru dan mengolahnya dengan akal, pikiran dan pemahaman lama yang sudah ada, maka kita akan sampai kepada hal-hal baru yang dapat kita cerna dan pahami.

 Apabila proses itu digambarkan dalam bentuk diagram barangkali akan nampak seperti bagan di bawah ini :

Jika hanya sampai di sini, maka yang diperoleh adalah derivasi dari sumber dimana kita belajar. Derivasi yang kualitasnya mesti tidak lebih baik daripada sumbernya. Sudah bersyukur jika yang diperoleh dan dipahami sama dengan sumbernya. Meskipun saya percaya itu tentu tidak sepenuhnya sama, disebabkan adanya distorsi di sana-sini sebelum menjadi pemahaman baru. 

Mengapa? Karena keterbatasan akal, pikiran dan kemampuan mencerna dari bahan yang diterima oleh indera. Ini membuat yang diterima mengalami degradasi dari versi asliya.

Lain lagi jika kita masuk pada tahap berikutnya. Itu adalah tahap dimana yang diterima, dicerna dan dipahami mendapatkan ridha dari Allah SWT. Jika ini terjadi, maka materi yang diterima dapat dicerna lebih lebih banyak, lebih dalam, bisa saja berbeda dan bahkan lebih luas daripada aslinya. Inilah mengapa seyogyanya setiap kali kita memohon ridha-NYA, sebelum melakukan segala sesuatu.

Memahami sesuatu yang baru harus berani berpikir keluar dari pemahaman yang sudah terbentuk selama ini. Ibarat makan nasi bungkus. Jangan hanya percaya ulasan mengenai isi dan rasa nasi bungkus seperti yang diceritakan oleh yang menjual nasi bungkus. 

Sekarang ketika tua mesti berani membuka bungkusnya, menyuap nasinya dan merasakannya. Bukan itu saja. Sudah waktunya harus bisa merasakan pedasnya sambal, gurihnya tempe dan tahu goreng, juga sedapnya sayurannya. Sudah waktunya merasakan nasi bungkus itu sebenarya rasanya bagaimana! Bukan hanya katanya saja. 

Bukan hanya kata ustadz saja, tetapi harus berani membuka nasi bungkus, menyuapkan nasi dan lauk ke mulut lalu merasakan semuanya. Jika hanya mendengar kata-kata ustadz saja dan tidak pernah berusaha melakukan usaha untuk merasakan, berarti kelasnya masih seperti ketika anak-anak dulu. Belum banyak berubah! Dan pasti pemahamannya juga belum berubah. 

Padahal sesungguhnya di luar sana begitu banyak fenomena yang sangat luar biasa banyak tidak terkira, yang akan membuat kita terperangah dan akan menjungkir-balikkan pemahaman yang selama ini kita yakini.

Wallahu’alam …..

Penulis

Heru Legowo

Editor

Indro Sutanto

Related Posts

Latest Posts

Populer

Membaca Menambah Wacana

Wajib Belajar dan Mencari Ilmu

Sehari di Washington DC

Share