Pengajian Nurul Ilmi Masjid Blangkon Al-Fath pada Ahad Pahing tanggal 11 April 2021, seharusnya yang memberikan materi pengajian adalah KH. Syatori Abdurra’uf Hafidzullah, tetapi beliau berhalangan. Dan digantikan oleh Prof. DR. Muhamad Ibn. Thariq, M.Ag.
Beliau mengawali pengajian Ahad Pagi terakhir sebelum Puasa Ramadhan ini, dengan mengatakan bahwa materi pengajian adalah kumpulan Kultum yang beberapa kali sudah disampaikan, pada Bada’ Shalat Maghrib di Masjid Al-Fath.
Salah satu sunnah Rasulullah adalah mencari ilmu dan hal itu akan memudahkan umat manusia masuk ke dalam surga. Saat sekarang kita masih berada di Taman Surga. Taman Surga itu ada tiga.
Yang pertama ada si Raudah di dalam Masjid Nabawi. Yang kedua, adalah tatkala manusia mengaji ilmu. Ketika dari rumah melangkahkan kaki kanan, pahala dari Allah mengiringi. Dan ketika melangkahkan kaki kiri, dosa-dosa kita berguguran. Yang ketiga adalah rumah. Baiti jannati. Rumah adalah surga. Tentu saja rumah dimana di dalamnya para penghuninya dengan ikhlas dan tawadhu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-laranganNya.
Manusia mesti melakukannya dengan ikhlas. Seperti buah kelapa. Kemudian beliau memberi metafora yang pas dan inspiratif, mengenai ikhlas. Ikhlas itu seperti buah kelapa, yang sudah tua. Sejak dipetik, dijatuhkan dari atas. Sesudah itu di-slumbat atau dikupas dengan parang. Lalu di-kepruk dengan keras. Kemudian dicungkil daging buahnya. Masih belum selesai “siksaan” nya. Sesudah itu diparut. Lalu diperas. Namanya lalu berubah, menjadi santan. Dan itu adalah bahan yang membuat masakan menjadi nikmat. Bisa gulai, rendang atau kolak.
Tetapi tetap nama kelapa nggak pernah disebut. Yang disebut justru yang sudah dibantu menjadi nikmat : gulai ikan, rendang daging, kolak singkong, dan sebagainya. Kelapa memberi manfaat tanpa memunculkan jati dirinya. Bukan itu saja, semua yang dari buah kelapa bermanfaat. Kulit buahnya, batok kelapa dan daging buahnya semua bermanfaat. Jadi begitulah ibadah mesti dilakukan dengan ikhlas.
Selanjutnya beliau menguraikan bagaimana manusia selalu ingin tahu ibadah seperti apa, yang sesuai dengan kehendak Allah. Konon Nabi Musa As adalah nabi yang dianggap paling cerdas, maka sebutannya adalah Kalamullah. Nabi Musa selalu ingin tahu dan mengeksplorasi segala sesuatu, dengan akalnya yang cerdas. Akalnya pulalah yang membuat Nabi Musa As, berani bertanya kepada Allah : ibadah manusia yang manakah yang membuat Allah senang? Dan terjadilah dialog Musa dengan Allah, sebagai berikut :
1. Shalat : sebenarnya shalat yang dikerjakan manusia, adalah untuk kebaikan manusia sendiri, seperti firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 :
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Manusia mesti berhati-hati mengenai perbuatan mensekutukan Allah ini. Kadang-kadang melakukannya tanpa sadar atau tanpa sengaja. Adapun perbuatan mungkar adalah mensekutukan Allah. Contohnya mereka yang percaya, jika dapat memegang Kunto Bimo di dalam stupa Borobudur, maka segala apa yang diinginkannya akan terkabul. Ini adalah bentuk meminta sesuatu kepada selain dari Allah. Padahal semestinya kita harus yakin dan percaya dengan kalimat : iyya kana’budu wa iyya kanasta’in.
2. Dzikir : yang dilakukan manusia sebenarnya adalah hanya untuk diri sendiri. Dzikir akan membuat dirinya menjadi tenang. Dzikir ini mesti diamalkan sampai dengan ajal menjemput kita. Tidak mudah melafazkan La ilaha illallah ketika kelak sakaratul maut menjemput. Oleh sebab itu seyogyanya diamalkan mulai sekarang, Insya Allah kelak akan dimudahkan dalam melafazkannya.
Seyogyanya kita secara konsisten dan istiqamah dalam hal : membaca Al-Quran, memberikan sadaqah, menjauhi memakan harta yang haram. Dan selalu mengingat kepada Allah.
3. Puasa : adalah ibadah untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu. Dan itu juga untuk kepentingan manusia sendiri. Sebab nafsu tinggal di dalam hati, maka mnausia harus berhati-hati mengendalikannya.
Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging itu adalah kalbu. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Allah menempatkan Akal dan Nafsu di dalam hati manusia. Ketika ditanya Allah, Akal mengakui bahwa dia adalah hamba dan Allah adalah Rabb-nya. Dan akal dimasukkan ke surga. Tetapi ketika ditanya, Nafsu berkata : “Aku adalah aku dan engkau adalah engkau”. Oleh sebab itu Nafsu dimasukkan ke dalam neraka jahanam 2 kali, masing-masing selama 100 tahun. Setelah itu baru Nafsu mengakui : “Aku hambaMU dan Engkau adalah Tuhanku”. Anna abdun wa anta rabbun.
4. Sadaqah : mesti dilakukan dengan ikhlas, karena Allah, bukan karena mengharap balasan, imbalan, atau pamrih tertentu. Sadaqah dan infaq jika dilakukan dengan konsisten, maka akan menjadi biasa, bahkan akan menjadi ketagihan dalam melaksanakannya. “Belilah kesulitanmu dengan sadaqah“. Insya Allah dengan sadaqah, semua kesulitan akan menyingkir.
Kemudian Pak Muhamad bercerita pengalaman pribadinya sekitar 10 tahun yang lalu, mengenai sadaqah dan ikhlas ini. Saya tidak menuliskannya rinci, karena jika salah persepsi dapat salah mengartikannya.
Alkisah pada suatu pagi, beliau diminta menjadi Penceramah Pengganti, sebab penceramah dari Jakarta tidak datang. Uang honor sebagai Penceramah Pengganti sebesar Rp 300 ribu, langsung dimasukkan ke dalam kota infaq. Siang hari itu juga, di dompet beliau tinggal bersisa Rp 114 ribu. Ada yang minta bantuan untuk membeli obat untuk ibunya. Dan uangnya sebanyak Rp 100 ribu diberikan. Jadi, berapa uang yang tersisa di dompet Pak Muhamad?
Ternyata pada hari itu juga beliau mendapat ganti langsung. Secara akumulasi ada uang yang diterima beliau sebesar Rp 40 juta. Dalam bentuk cash dan transfer rekening bank. Hanya dalam sehari, yang diserahkan dengan ikhlas, ternyata telah berlipat 10 kali! Masya Allah. Benar-benar seperti janji Allah dalam QS. Al-Anaam ayat 160 :
Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).
Hal penting yang ditekankan beliau, adalah bahwa proses mendapatkan 10 kali lipat itu, tidak dapat langsung dan seketika. Membutuhkan proses, keikhlasan, konsisten dan istiqamah. Mudah-mudahan para peserta pengajian akan dapat mengambil hikmahnya dan melakukannya dengan ikhlas.
Kemudian, contoh nyata adalah pembangunan Masjid Blangkon Al-Fath, dengan bentuknya yang sudah seperti sekarang ini, biaya yang sudah dikeluarkan adalah sekitar Rp 1 miliar dari rencana anggaran Rp 1,5 Miliar. Dan biaya itu dikumpulkan dari infaq para donatur. Semoga Allah meridhai dan melipat-gandakan rejeki para donatur dan para sukarelawan yang telah bersama-sama mewujudkan pembangunan masjid. Mudah-mudahan pembangunan Masjid Al Fath ini segera selesai. Aamiin.
Akhirnya, semoga apa yang sudah disampaikan dalam pengajian dapat menambah keyakinan dan iman kita, serta memicu agar kita dapat melakukannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Selamat menyambut dan menjalankan ibadah Puasa. Masjid Blangkon Al-Fath sudah mempunyai agenda pada Bulan Ramadhan antara lain : ceramah menjelang berbuka puasa, shalat Taraweh, tadarus, takbir keliling, iktikaf, kultum Subuh, lomba semarak Ramadhan, zakat fitrah dan lainnya.
Marilah bersama-sama memakmurkan masjid, dan memberi makna yang lebih mendalam, dalam Bulan Ramadhan yang penuh rakhmat.
Insya Allah …

