Memasuki hari ke-24 Perang AS-Israel dengan Iran terus berkecamuk. Saling serang dan saling mengirimkan rudal balistik. Strategi Amerika-Israel adalah menang cepat. Caranya dengan menghancurkan angkatan udara dan laut Iran dan membunuh Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Harapannya setelah serangan itu, Iran akan chaos. Dan ada pergantian pemimpin Iran, yang akan berpihak kepada Amerika. Ternyata skenario menang cepat dengan mengandalkan teknologi perang yang canggih, tidak membawa hasil.
Justru kehilangan pemimpinnya, Iran malah semakin bersatu untuk melawan. Malah pemimpin Iran yang baru, Mojtaba Khamenei putra dari Ali Khamenei mengisyaratkan perang balas dendam ini akan terus berlangsung lama. Bila perlu sampai orang yang terakhir.
Koalisi Amerika-Israel justru terbawa skenario perang asimetris yang dirancang Iran. Iran membuat perang itu akan berlangsung lama. Rudal-rudal murah yang harganya bisa sampai 200 kali lebih murah dari rudal Patriot dan Thaad terus menghujani Israel. Malah yang terakhir Rudal Sijjil yang mampu membagi diri menjadi 50 pecahan, memasuki wilayah Israel dan tidak dapat dihentikan oleh Iron Dome, Arrow-3 dan David Sling milik Israel.
Iran melawan dan membalas dendam. Dan dengan cerdas tidak melawan head-to-head dengan militer AS-Israel, tetapi dengan perang asimetris. Iran dengan cerdas menggunakan berbagai cara, bukan hanya dengan militer saja. Ini sering dianalisis sebagai DIME.
Analisis DIME adalah kerangka yang sering dipakai militer dan pembuat kebijakan untuk memahami bagaimana sebuah negara menggunakan seluruh kekuatannya dalam konflik atau perang.
DIME adalah singkatan dari Diplomatic, Informational, Military, dan Economic. Pendekatan ini tidak hanya melihat pertempuran di medan perang, tetapi juga bagaimana politik, informasi, dan ekonomi mempengaruhi hasil perang.
1. D – Diplomatic (Diplomasi)
Ini menyangkut hubungan antar negara dan negosiasi politik. Yang dianalisis misalnya: aliansi dan koalisi negara, dukungan internasional, tekanan diplomatik, perjanjian atau negosiasi damai.
Contoh: ketika terjadi perang, negara mencari dukungan di United Nations, membentuk aliansi militer seperti North Atlantic Treaty Organization (NATO). Dan melakukan tekanan diplomatik terhadap musuh. Dan dengan cara diplomasi bisa mengisolasi lawan tanpa harus menembakkan peluru.
2. I – Informational (Informasi)
Ini berkaitan dengan perang informasi. Yang termasuk di dalamnya adalah propaganda, operasi media, D\disinformasi, cyber warfare dan mengontrol narasi publik.
Tujuannya untuk mempengaruhi opini masyarakat, menjatuhkan moral lawan, mendapat dukungan global. Contoh: penyebaran narasi di media sosial, perang propaganda melalui televisi dan internet.
Dalam perang modern, perang informasi sering sama pentingnya dengan perang senjata.
3. M – Military (Militer)
Ini yang paling terlihat: penggunaan kekuatan bersenjata. Yang dianalisis misalnya strategi militer, operasi tempur, kekuatan pasukan, teknologi persenjataan, logistik dan komando. Contohnya adalah serangan udara, operasi darat, blokade laut.
Namun dalam konsep DIME, militer hanyalah satu bagian dari keseluruhan strategi nasional.
4. E – Economic (Ekonomi)
Perang juga sangat ditentukan oleh kekuatan ekonomi. Yang dianalisis misalnya sanksi ekonomi, blokade perdagangan, kontrol energi, dan ketahanan industri.
Contoh: negara menjatuhkan sanksi perdagangan, membatasi akses ke teknologi atau energi. Sering kali perang dimenangkan bukan di medan tempur, tetapi di kekuatan ekonomi.
Inti dari Analisis DIME
Pendekatan ini melihat bahwa perang modern adalah perang total. Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh tentara, tetapi oleh kombinasi empat kekuatan negara: Diplomasi, Informasi, Militer dan Ekonomi. Jika keempatnya digunakan secara terpadu, strategi negara menjadi jauh lebih kuat.
Dalam sejarah, banyak perang dimenangkan bukan hanya oleh pedang, tetapi oleh akal, jaringan, dan ketahanan ekonomi. Karena itu strategi modern selalu melihat perang sebagai permainan kekuatan yang menyeluruh, bukan sekadar pertempuran di medan tempur.
Mengapa Analisis DIME Penting
Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa perang modern tidak selalu terlihat sebagai perang. Bentuknya bisa berupa, sanksi ekonomi, perang media, tekanan diplomatik persaingan teknologi. Kadang-kadang justru perang ekonomi dan informasi lebih menentukan daripada perang senjata.
Dalam dunia modern, kekuatan negara tidak hanya diukur dari jumlah tentara, tetapi juga dari pengaruh diplomasi, kekuatan ekonomi, kemampuan mengendalikan informasi. Karena itu banyak analis mengatakan siapa yang menguasai narasi, ekonomi, dan teknologi sering memenangkan konflik sebelum perang dimulai.
Kita memperhatikan bahwa tampaknya Iran dengan cerdas memakai strategi asimetris ini dengan cara membuat perang selama mungkin. Amerika mulai keteter. Dia nggak malu-malu minta bantuan negara-negara NATO untuk membantu, tetapi tidak ada yang menggubris.

Mojtaba Khamenei sekarang merasa berada di atas angin, dan menolak usaha Amerika untuk melakukan gencatan senjata dengan menegaskan tuntutan tiga poin utama:
- Penarikan cepat pasukan AS dari Timur Tengah
- Pencabutan penuh sanksi dalam waktu 60 hari
- Kompensasi finansial jangka panjang atas kerugian ekonomi yang sudah dialami Iran selama ini.
Bukan hanya itu, ia juga mengeluarkan ultimatum tegas. Jika tuntutan tersebut diabaikan, Iran akan meningkatkan eskalasi baik secara ekonomi maupun militer. Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz. Salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Dan ini yang ditakutkan Amerika, Teheran disebut bersiap meresmikan kerja sama keamanan dengan Rusia dan China. Membuat aliansi strategis yang selama ini masih bersifat pragmatis. Ancaman yang nyata itu sudah tentu membuat Amerika ketar-ketir.
KPA, 25 Maret 2026 (dari berbagai sumber)

