Manusia telah menerima kodratnya sebagai mahluk ciptaan Allah, dan menjadi khalifah-NYA di dunia yang fana ini. Dan setiap kali manusia sebagai mahluk–NYA, terus tergelitik, berpikir dan berusaha mengetahui siapa Sang Maha Pencipta ini? Lalu sebagai makhluk berpikir, manusia menggunakan akal, pikiran dan logikanya untuk mencari tahu siapa gerangan Sang Pencipta ini. Semakin manusia menggunakan akalnya dan semakin dia berusaha, manusia semakin mengerti dan menyadari betapa sangat amat kecil dirinya.
Juga semakin mengerti ternyata jika dibandingkan alam semesta yang tergelar di jaga raya ini, sebenarnya dia tidak tahu apa-apa. Akal dan logikanya tidak mampu menyingkap keberadaan Allah sesuai pemahamannya. Ilustrasi ini berlaku jika manusia ingin tahu keberadaan Allah SWT, secara fisik.
Manusia selalu ingin tahu. Dan itu sudah menjadi kodratnya, untuk selalu memahami alam sekelilingnya. Jangankan manusia biasa, seorang Nabi yang sudah berkomunikasi langsung dengan Allah pun, pernah ingin tahu dan melihat Allah, QS (Al-A’raaf 143) :
Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata : “Ya Tuhanku tampakkanlah (diri-MU) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”. (Allah) berfirman : “Engkau tidak (sanggup) melihat-KU, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-KU” Maka ketika Tuhan menampakkan (keagungan-NYA) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata : “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman”
Allahu Akbar … Seharusnya upaya mengetahui keberadaan Allah SWT tidaklah mesti dilakukan langsung. Alih-alih secara langsung, seyogyanya keberadaan Allah SWT dipahami melalui segala hal yang menjadi pantulan refleksi keberadaan Allah SWT. Metafora sederhana barangkali begini.
Jika kita ingin melihat matahari secara langsung, oleh karena keterbatasan fisik jika tanpa bantuan peralatan, maka manusia tidak mampu menatap langsung matahari. Kita tidak mungkin melihat matahari secara langsung, tetapi kita dapat memahami keberadaan matahari dengan pantulan sinarnya yang mengenai benda-benda. Oleh sebab sinarnya itulah, maka kita dapat melihat bulan dan benda-benda di sekeliling kita. Tanpa adanya sinar matahari, kita tidak mungkin melihat benda-benda itu.
Selanjutnya segala macam benda pasti ada yang menciptakannya. Suatu benda tidak mungkin terwujud, jika tidak ada yang membuatnya. Begitu juga alam semesta raya ini. Siapakah yang menciptakannya? Pergulatan dan pencarian ini terus berlangsung. Para ilmuwan dan cendekiawan terus berusaha dan berlomba menelusuri tata surya, dalam upaya terus mencari.
Pada sisi lain, Allah SWT juga telah menjelaskan keberadaan-NYA melalui, QS (Al Baqarah : 115) :
“Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka kemana pun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui”
Apa maknanya? Di sinilah perlunya memahami bahasa “langit”. Bahasa yang penuh nuansa dan metafora, yang bermakna bukan semata-mata secara harfiah seperti yang tersurat. Perlu memahami dengan usaha dan eksplorasi sejauh logika kita dapat menjangkau dan menerjemahkannya. Di dalam Al Qur’an begitu banyak metafora, perumpaan, bahasa kias, bahasa yang mengandung makna yang tersirat. Itu membutuhkan telaah dan kecerdasan spiritual, agar sampai kepada pemahaman yang sebenarnya.
Pada tataran non fisik, Rasulullah Muhammad SAW sudah mengatakan dengan jelas bahwa barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Allah. Man ‘arafa nafsahu Faqad ‘arafa Rabbahu. Sekarang tergantung masing-masing pribadi bagaimana usahanya untuk mengenal dirinya sendiri, dalam rangka mengenal Tuhannya. Pastilah itu bukan usaha yang mudah. Mengapa? Sebab ada suatu waktu, ketika manusia sampai pada kebuntuan berpikir. Pada suatu titik dimana logika tidak dapat menguraikan keingintahuannya.
Kembali ke masalah penciptaan tadi. Bahwa semua benda pasti ada penciptanya. Tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Ada proses yang mengawalinya. Seandainya kita renungkan dengan benar-benar. Ini sungguh bermakna sangat mendalam. Jika ada sebuah benda bagus. Sebuah lukisan misalnya, yang mampu memindahkan keindahan alam ke dalam kanvas. Si pemerhati lukisan yang melihat langsung berdecak kagum. Bagi yang paham mengenai lukisan bisa berhenti dan berlama-lama mengamati keindahan lukisan itu. Kemudian mestilah dia berpikir bagaimana Sang Pelukis melukiskan keindahan itu?
Seperti itu jugalah metafora keberadaan Allah SWT. Lukisan dan ciptaan-NYA menghampar tidak terkira, di luar bayangan dan daya pikir manusia.
Masya Allah ...
Sebaliknya, waspadalah jika melihat segala macam yang berkebalikan. Bukankah semua diciptakan berpasang-pasangan? Ada baik ada buruk, ada siang ada malam, ada jantan ada betina dan ada gelap ada terang? Jika ada suatu benda yang buruk dan jelek. Janganlah mudah mencela. Mengapa? Sebab itu berarti menyalahkan si pembuatnya. Begitu juga jika ada manusia yang buruk. Baik rupa maupun perangainya.
Janganlah mudah mencela dan menjelekkannya, karena itu sama saja anda mencela dan menjelekkan Si Pembuatnya.
Astaghfirullah …

