Washington adalah kota pemerintahan Amerika Serikat, dimana terletak Gedung Putih, Capitol, National Monument, Pentagon dan sebagainya. Ada 174 duta besar dari seluruh dunia, di sini. Mulai dibangun 16 Juli 1760. Penduduknya 600 ribu, tetapi pada hari kerja bisa 1 juta orang di dalamnya. Luasnya 177 km2, terdiri dari daratan 159 km2 dan air 18 km2. Seperti di Jakarta lah, penduduknya pada waktu malam dan siang beda jumlahnya.
Minggu 23 November jam 09.00 hari pertama di Washington, harus cepat memanfaatkan waktu untuk melihat Washington DC. Jemila, gadis petugas front desk Hotel Hilton menawarkan untuk menggunakan bus wisata Hop On Hop Off. Jika naik bus dua tingkat yang di atasnya terbuka ini, kita bisa turun dan naik lagi, dimana pun tempat bus stop. Harganya $35 untuk dua hari.
Saya minta sehari saja, ternyata harganya sama saja $35. Ya sudah. Ini sebuah trik sederhana, yang ampuh untuk “memaksa” pembeli untuk mengeluarkan uang. Atau barangkali memang sehari nggak akan cukup, untuk melihat Washington DC?
Saya menunggu di luar hotel sesuai jam yang sudah disepakati. Ternyata ada sedikit masalah. Sudah dua kali bus lewat tetapi tidak mau berhenti. Setelah yang ke tiga lewat, petugas polisi yang berdiri membantu memberhentikan bus tersebut dan bertanya mengapa nggak melayani? Seru juga debat dikit, akhirnya saya naik dan bus pun jalan.
Pilihan pertama, Aerospace museum! Sangat inspirasional bagi yang awam, seperti saya ini. Usaha manusia untuk menaklukkan angkasa digambarkan dengan jelas mulai sejak Wilbur Smith bersaudara, sampai display modul pendarat Apollo 11.

Modul Pendarat Apollo 11 asli
Yang menarik, juga ditampilkan balon udara Breitling Orbiter 3 dengan catnya yang berwarna jingga menyala. Breitling Orbiter 3 ini memecahkan rekor mengelilingi dunia, selama 19 hari, 21 jam, 55 menit! Pada tanggal 1 Maret 1999 Bertrand Piccard dan Brian Jones berangkat dari sebuah desa di Alpen Swiss, dan mendarat tanggal 21 Maret 1999, di sebuah gurun di Mesir; setelah menempuh jarak 45.755 km. Bukan main!
Sebenarnya, maunya agak lama di sini, tetapi masih ada lagi yang penting. Jadi ke luar dan naik bus lagi. Sayang hujan mulai turun. Dingin dan tangan mulai beku, harus pakai sarung tangan. Jadi nggak bisa duduk di atas yang terbuka dan bebas melihat sekeliling. Duduk di bawah saja, dekat jendela dan lebih hangat. Sayang hujan. Dan memotret dari balik kaca yang basah juga nggak bagus. Apaboleh buat.
Berikutnya turun di Union Building. Di sini sopir istirahat, sopirnya bilang yang ingin terus silahkan menggunakan bus di depannya. Jadilah, penulis masuk ke gedung. Di dalamnya ternyata tenpat restoran, mall, perkantoran dan sebagainya. Terus masuk ke dalam. Eh ternyata stasiun utama Amtrak (Kereta Api Amerika) di sini. Nggak tampak seperti stasiun. Rapi banget. Kayak terminal airport saja. Ada boarding gate-nya, yang di atas pintunya tertulis kota tujuan. Kalau ada waktu, harus dicoba naik kereta. Besok saja kalau pulang dari New York, naik kereta saja dah.
Setelah beristirahat sejenak, dan makan siang, kembali ke depan gedung nyari bus lagi. Kali ini sopirnya agak lucu. Dia bilang kita akan “terbang” di ketinggian 420 feet, dengan kecepatan maksimal 40 mil/jam, dan paling lambat 0 mil/jam.
Di depan gedung Capitol, gedung Parlemen Amerika, penulis memaksa turun, walaupun hujan gerimis agak deras. Kapan lagi, kan? Setelah ambil gambar dan berjalan ke tengah lapangan di depan gedung. Baru tahu, ternyata gedung ini terletak segaris dengan National Museum! Lurus. Seperti Kraton Jogya dan Tugu, gitu deh.
Kata John Appono, rekan penulis dari Ambon, yang kuliah sambil “ngoran”, jadi pengantar koran. John mengantar Koran dari jam 2-4 pagi tiap hari ke 300 pelanggan. Kata dia, sebenarnya ada 4 bangunan utama di Washington yang membentuk tanda silang, seperti tanda plus. Dimana National Museum tepat di tengahnya. Di ujung-ujungnya ada : Capitol, White House, Lincoln Memorial, dan Jefferson Memorial.
National Monument, artinya Monas juga kan? Berbetuk balok, tinggi menjulang dan lancip di atasnya, kita bisa naik ke atasnya pakai lift, tapi antrinya panjang banget.
Konon, tidak ada bangunan yang boleh lebih tinggi dari Monas-nya Amerika ini. Makanya, di Washington tidak ada gedung tinggi, tidak seperti di New York!
Hujan tidak reda malah tambah deras, bus yang ditunggu nggak muncul-muncul. Akhirnya setelah mulai basah, bus datang juga. Tunjukkan tiket dan lompat ke dalam …
Bus Hop On Hop Off berjalan terus, gerimis di luar. Penjelasan tentang gedung-gedung yang dilewati, hanya dari audio, bukan langsung dari sopir bus. Bahasanya formal.

National Monument Washington DC
Tidak berapa lama, kemudian sampai di White House. Wuihhh, beneran nih Gedung Putih, gile cing! Turun di sini. Di tiang listrik, ada dua petunjuk, kebetulan yang terbaca yang ke kiri. Belakangan nanti baru tahu, ternyata ada yang ke kanan. Penulis mengikuti yang kiri. Dari jauh, di antara rintik gerimis; National Monument tampak menjulang tinggi.
Setelah berjalan agak lama, dimana Gedung Putih? Ternyata, hanya lewat dari bagian belakangnya. Dimana bagian depannya? Penasaran, jalan terus saja. Lihat National Monument dulu, lebih dari dekat lagi. Di akses jalan masuk polisi berjaga berlapis. Mobilnya diparkir di belakang gedung putih; dan ada satu di jalan raya dekat National Monument.
Mobil yang ini nge-blok akses masuk ke area. Dan petugasnya agak memaju-mundurkan mobilnya, kalau ada mobil yang akan lewat! Walaupun begitu, polisi yang jaga tetap sigap, cekatan, dan tetap ramah. Ketika penulis bertanya : dimana Gedung Putih. Over there, sir! The white building a little shading in the distance.
Terpaksa kembali lagi ke tempat semula. Ketika sampai di samping Gedung Putih, tampak beberapa laki-laki dan perempuan yang berpakaian dengan jas lengkap dan necis. Mungkin ada pertemuan dengan Obama! Di tiang ada petunjuk Gedung Putih, ke arah yang lain. Setelah diikuti, wah jalan ini yang harusnya ditempuh, untuk sampai di depan White House.

Akhirnya sampai juga di sini – White House!
Dan akhirnya … Itu dia Gedung Putih! Akhirnya sampai juga di sini! Seperti mimpi saja rasanya. Sekilas gedung ini tampak biasa saja. Tiang utamanya 2 buah. Ada jendela 4 buah di sisi kiri dan kanannya. Dua tingkat. Pusat pemerintahan Amerika yang menjadi tempat tinggal dan kantor Presiden Amerika. Lokasinya di 1600 Pennsylvania Avenue NW, Washington, D.C. Dibangun antara 1792-1800 dengan Georgian style.
Di depannya di luar pagar, walaupun hujan gerimis, banyak turis sibuk berfoto, bergantian. Penulis ikut nimbrung. Minta tolong orang untuk foto. Mak, aku di depan Gedung Putih nih ….
Jalan di depan gedung Putih ditutup untuk kendaraan. Ada dua mobil polisi yang berjaga dan bersiaga, di jalan yang ditutup di depan di luar pagar. Petugasnya sibuk menjawab pertanyaan turis-turis. Satu mobil lainnya berbentuk van, parkir di sebelah tepi kanan depan. Top priority security measures!
Berhenti sejenak dan memperhatikan dengan seksama. Saya membayangkan bagaimana Presiden Barrack Obama di dalam di ruangan yang hangat, sambil ngopi dan mengendalikan Amerika dan dunia! Hebat dia! Agak lama di sini; terus saya beranjak pulang.
Di trotoar, ada seorang ibu-ibu tua yang camping di depan Gedung Putih menentang nuklir. Menurut ceritera, ibu ini sudah berbulan-bulan makan-tidur di sebuah tenda sederhana, pasti dingin sekali!
Di sebelah tendanya yang sederhana, berwarna putih tua dan kusut, ada tulisan yang ditulis asal-asalan : “Don’t be a lemming save yourself renounce genocidal weapons” Seorang turis, dari negara Balkan (kalau mendengar logat bahasanya) nggerundel : “Orang bisa begini ini, hanya bisa terjadi di Amerika! Kalau di negara kita, dia sudah ditembak!” Waduh.
Sambil berjalan pulang, ternyata di depan Gedung Putih, banyak binatang seperti tupai (squirel?) yang asyik mencari makan, dan tidak terusik, walaupun didekati. Mereka lompat ke dahan, turun ke bawah tanah, mencari makanan.
Jalan terus. Saya memperhatikan bagaimana sebuah sedan akan masuk melalui barikade besi bulat dengan diameter 30cm. Ternyata 4 buah barikade itu dapat diturunkan masuk ke dalam aspal jalanan, sehingga sedan dapat melintas dengan bebas. Setelah sedan lewat, barikade itu muncul lagi dari dalam aspal ke permukaan, dan membuat barikade lagi. Efisien sekali!

Di depan Gedung Capitol
Jam sudah menunjukkan jam 16.30. Masih berharap bus Bus Hop On Hop Off lewat lagi. Ternyata setelah ditunggu, nggak lewat-lewat. Bus itu sudah berhenti beroperasi barangkali. Mencoba naik bus umum untuk kembali ke hotel. Sayang, belum paham rutenya. Ya sudah naik taksi saja, keburu kedinginan di luar.
Dan ketika baru masuk ke hotel, masuk sms dari pak Suprasetyo. Nanti mau dijemput, makan malam di luar. OK deh, mandi cepat!
Dan sebentar kemudian Pak Suprasetyo sudah menunggu di lobby. Kami makan steak di restoran Italy di Georgetown. Yang menarik, di dinding bar-nya ada sebuah lukisan. Di dalamnya ada beberapa Presiden Amerika yang sedang minum dan ngobrol bersama: Ronald Reagan, Abraham Lincoln, John F. Keneddy, George Bush, Bill Clinton. Memang hanya lukisan imajinatif. Tetapi tampak bahwa Presiden Amerika, saling menghargai satu dengan lainnya. Sesuatu yang sulit terjadi di Indonesia!
Setelah makan malam, Pak Suprasetyo mengajak ke kantornya di lantai 3 Gedung KBRI. Gedung KBRI keren banget, seperti hotel saja! Katanya dibeli oleh Dubes Pertama RI untuk Amerika Ali Satroamidjojo dengan harga $ 350 ribu. Sekarang pasti mahal banget.

Pak Suprasetyo perwakilan Indonesia di ICAO
Pak Pras sempat menunjukkan black-box-nya pesawat Adam Air yang jatuh dan masuk ke laut di Sulawesi. Setelah dianalisis oleh FAA, black box diserahkan ke KBRI kemudin disimpan oleh Pak Suprasetyo.
Kembali ke hotel diantar Pak Rachmad. Istirahat. Besok meneruskan perjalanan lagi …

